HUBUNGAN
KADAR FERITIN SERUM DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PRETERM
SITTI
NARIMAN KOROMPOT
TESIS
Untuk memenuhi
salah satu syarat guna memperoleh gelar
Spesialis
Obstetri dan Ginekologi Program Pendidikan Dokter Spesialis I
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS -1
BAGIAN / SMF OBSTETRI GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI
RUMAH SAKIT UMUM PROF.R.D.KANDOU
MANADO
2012
HUBUNGAN KADAR FERITIN SERUM DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PRETERM
Oleh
:
SITTI
NARIMAN KOROMPOT
Tesis
ini untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar
Spesialis
Obstetri dan Ginekologi Program Pendidikan Dokter Spesialis I telah disetujui oleh pembimbing pada tanggal seperti tertera
dibawah ini :
Manado, Oktober 2012
dr. Maria F.T. Loho, SpOG-K dr.
Joice Kaeng, SpOG-K
Pembimbing I Pembimbing
II
Mengetahui,
DR.dr. Freddy W. Wagey, SpOG-K Prof. dr. Hermie M.M. Tendean, SpOG-K
Kepala Bagian /
SMF OBSGIN
Ketua Program Studi OBSGIN
FK UNSRAT / RSU
Prof. Dr. R.D.Kandou FK
UNSRAT / RSU Prof. Dr. R.D.Kandou
KATA PENGANTAR
Assalamuallaikum Wr.Wb,
Bismillahirrahmanirahim,
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan tesis ini, sebagai salah satu syarat dalam
Program Pendidikan Dokter Spesialis bidang Obstetri Ginekologi di Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.
Melalui kesempatan ini,
saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
semua pihak yang telah bersedia dengan tulus membantu saya selama proses
pendidikan.
Pertama kali ucapan
terima kasih dan penghargaan saya sampaikan dengan hormat kepada DR. dr. Freddy W. Wagey, SpOG-K sebagai
Kepala Bagian/ SMF Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam
Ratulangi / RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado, yang telah memberi kesempatan, nasehat dan bimbingannya selama
saya mengikuti Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi.
Kepada Prof. dr. Hermie M.M. tendean, SpOG-K
sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi
Fakultas kedokteran Universitas Sam Ratulangi / RSU Prof. Dr. R.D. Kandou
Manado, saya menyampaikan terima kasih
dan penghargaan dan bimbingan, nasehat dorongan, dan saran yang telah diberikan
selama pendidikan.
Kepada dr. Maria F.T. Loho, SpOG-K sebagai
Sekretaris Bagian / SMF Obstetri Ginekologi fakultas kedokteran Universitas Sam
Ratulangi / RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado,
sekaligus pembimbing I dalam penyusunan tesis ini, saya menyampaikan terima kasih dan
penghargaan dan bimbingan, nasehat dorongan, dan saran yang telah diberikan
selama menyelesaikan pendidikan ini, ditengah kesibukan dan kepadatan tugas
beliau.
Kepada dr. John J.E. Wantania, SpOG, IBCLC sebagai
Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi
fakultas kedokteran Universitas Sam Ratulangi / RSU Prof. Dr. R.D. Kandou
Manado, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan bimbingan, nasehat dorongan, dan saran yang
telah diberikan selama pendidikan.
Kepada Prof. dr. Najoan N. Warouw, SpOG-K
sebagai mantan Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri
Ginekologi fakultas kedokteran Universitas Sam Ratulangi / RSU Prof. Dr. R.D.
Kandou Manado, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas bimbingan,
nasehat dorongan, dan saran yang telah diberikan selama pendidikan.
Kepada Prof. DR. dr. Eddy Suparman, SpOG-K
sebagai ketua POGI cabang Manado, saya menyampaikan terima kasih dan
penghargaan atas bimbingan, nasihat, dorongan, saran, keteladanan,
profesionalisme selama masa pendidikan.
Kepada dan
dr. Joice Kaeng, SpOG-K sebagai pembimbing II dalam penyusunan tesis
ini, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan atas segala nasehat dan
bimbingan, arahan dan saran yang telah diberikan ditengah kesibukan dan
kepadatan tugas beliau.
Ucapan terima kasih dan
penghargaan yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada para guru saya: Prof. dr. Olga M. Sanger, SpOG-K, dr. R.B.
Rattu, SpOG, dr. R.A.A. Mewengkang, SpOG, dr. Max Rarung, SpOG-K, dr. Jefferson
Rompas, SpOG, dr. Jan Tinggogoy,
SpOG, dr. Rudy Lengkong, SpOG-K, , dr. Bismarck J. Laihad, SpOG-K, dr. Joice
Sondakh,SpOG-K, dr. Linda Mamengko, SpOG, dr. Maya M. Mewengkang, SpOG dan dr.
Erna Suparman, SpOG-K yang telah banyak memberikan bimbingan, ilmu
keterampilan dan nasehat selam saya mengikuti pendidikan ini.
Kepada Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, Prof. DR.dr. Sarah Salendu Warouw, SpA-K, saya mengucapkan terima
kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk mengikuti
pendidikan.
Kepada Direktur RSU
Prof. R.D. Kandou Manado, dr. Djolly
Rumopa, SpOG, saya ucapkan terima kasih atas fasilitas sarana dan prasarana
yang telah diberikan selama mengikuti pendidikan ini.
Kepada Direktur RSU
Wolter Monginsidi Teling, Letkol dr.
benny Untu, SpM saya ucapkan terima kasih atas kesempatan dan fasilitas
sarana dan prasarana yang telah diberikan selama saya bertugas di rumah sakit
yang dipimpin beliau.
Kepada Direktur RSU
GMIM Bethesda Tomohon, dr. Hans
Tambajong, MKes, sya ucapkan terima kasih atas fasilitas yang diberikan
selama saya bertugas di rumah sakit yang beliau pimpin. Begitu juga terima
kasih kepada dr. Nova Wulur, SpOG
dan dr. Michael Runtulalo, SpOG atas
bimbingan dan nasehat pada saat saya bertugas di RSU GMIM Bethesda Tomohon.
Kepada Direktur RSUD
Datoe Binangkang Kotamobagu, dr. Lucky
Siwi, SpPD, saya ucapkan terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama
saya bertugas dirumah sakit yang beliau pimpin. Ucapan terima kasih juga saya
sampaikan kepada dr. Bennardy Gunadi,
SpOG dan dr. I Gede Watumbara, SpOG
atas bimbingan pada saat saya bertugas di RSUD Datoe Binangkang Kotamobagu.
Kepada Direktur RSUD
Aloe Saboe Gorontalo, dr. Hj. Nurinda
Halim, MKes, saya ucapkan terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama
saya bertugas dirumah sakit yang beliau pimpin. Ucapan terima kasih juga saya
sampaikan kepada dr. H. Elson Djakaria,
SpOG, dr. Imelda Gunawan, SpOG, dr. I Gusti Suparwata, SpOG, dr. Maimun Ihsan,
SpOG atas bimbingan, arahan dan nasehat selama saya bertugas di RSUD Aloe
Saboe Gorontalo.
Kepada Direktur RSUD
Tani Nelayan Kab. Boalemo, dr.
Moh. Jamal,MPH.AAAK saya ucapkan terima kasih atas
fasilitas yang diberikan selama saya bertugas dirumah sakit yang beliau pimpin.
Kepada Direktur RSUD
Labuha Kabupaten Halmahera Selatan dr.
Juri Hendrajadi, saya
ucapkan terima kasih atas fasilitas, dukungan dan dorongan doa yang diberikan
selama saya bertugas Pengabdian Jenjang
I PPDS-BK/TUBEL selama 6 bulan di RSUD Labuha Kabupaten Halmahera Selatan
Provinsi Maluku Utara.
Kepada Direktur RSU GMIM Kalooran Amurang, dr.
Elleine Wenur, M.Kes, saya
ucapkan terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama saya bertugas dirumah
sakit yang beliau pimpin.
Kepada Direktur RSUD
Toto Kabila Kab. Bone Bolango, dr. Tonie Doda, SpOG, saya ucapkan
terima kasih atas fasilitas dan bimbingan
yang diberikan selama saya bertugas dirumah sakit yang beliau pimpin.
Kepada Direktur RSUD
Kota Tidore Kepulauan, dr. Helda Malubaya,
saya ucapkan terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama saya bertugas
dirumah sakit yang beliau pimpin.
Kepada Kepala Bagian Ilmu kesehatan Anak FK
UNSRAT/RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado beserta staf, saya sampaikan terima
kasih atas bimbingan selama saya menjalani stase dibagian tersebut.
Kepada Kepala
Bagian Ilmu bedah FK UNSRAT/RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado beserta staf,
saya sampaikan terima kasih atas bimbingan selama saya menjalani stase dibagian
tersebut.
Kepada Kepala Bagian Anastesi FK UNSRAT/RSU Prof.
Dr. R.D. Kandou Manado beserta staf, saya sampaikan terima kasih atas
bimbingan selama saya menjalani stase dibagian tersebut.
Kepada Kepala Bagian Patologi Anatomi FK
UNSRAT/RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado beserta staf, saya sampaikan terima
kasih atas bimbingan selama saya menjalani stase dibagian tersebut.
Kepada Prof. DR. Julius H. Lolombulan, MS,
saya ucapkan terima kasih dan penghargaan atas bantuan dan bimbingan dalam
bidang statistic selama penyusunan tesis.
Kepada teman-teman
sejawat Residen Obstetri – Ginekologi FK
UNSRAT Manado, baik yang terlebih dahulu lulus maupun yang masih dalam
pendidikan, saya ucapkan terima kasih atas bantuan serta kerjasamanya yang baik
selama ini.
Kepada teman-teman sejawat residen dibagian lain,
para bidan, perawat, para dokter muda, serta adik-adik mahasiswa FK UNSRAT Manado, serta para pegawai tata usaha
dibagian / SMF Obstetri Ginekologi, Ibu
Sri, Bapak Billy, Bapak Maxi, Ibu Meiske,
dan Ibu Tina, saya sampaikan terima kasih atas bantuan dan
kerjasamanya yang baik selama saya
menempuh proses pendidikan ini.
Ucapan terima kasih dan
penghargaan sebesar-besarnya saya sampaikan kepada para pasien dan keluarganya, atas kerelaan sebagai klien serta
kerjasama yang baik selama saya menempuh
proses pendidikan ini.
Kepada kedua orang tua
saya, Ibunda tercinta Fatma Monoarfa
dan Ayah
Mahmud Korompot (Alm) ucapan terima kasih tidak terhingga saya sampaikan,
atas segala doa, kasih sayang, perhatian, dukungan yang telah diberikan kepada
saya selama pendidikan sehingga bisa meraih semua ini.
Kepada saudara kandung
saya , Sitti Masita Korompot, SH, Sitti
Astini Korompot, SPd,MPd, dr. Iswanto Korompot dan kakak ipar Rahman Potabuga, Wiyono dan adik Ipar
Susilowati,SPd, serta keponakan-keponakanku Aditya, Putri Dyah, Hakim, Dwi Maharani dan Azzahra diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas segala bantuan, perhatian, dukungan moril maupun materil, semangat dan doa
yang telah diberikan kepada saya selama pendidikan ini.
Kepada suami yang
tercinta Idiel Suratinojo, SH, yang
dengan segala kecintaan, pengorbanan, pengertian, kesabaran menunggu dan
dukungan semangat serta doa sehingga memberikan ketabahan dan keikhlasan dalam
menyelesaikan pendidikan dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, saya sampaikan
terima kasih yang tidak terhingga.
Akhirnya saya sampaikan
terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu,
atas segala bantuan, dukungan, kerjasama yang baik selama penyelesaian tesis
ini maupun selama menjalani proses pendidikan.
Semoga Allah SWT akan
membalas semua kebaikan, dan jerih payah Bapak, Ibu dan saudara-saudara dengan
segala kelimpahan-Nya.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Manado,
Oktober 2012
Sitti
Nariman Korompot
DAFTAR ISI
Kata pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
belakang
1.2. Identifikasi
Masalah
1.3. Tujuan
penelitian
1.4.
Hipotesis
1.4.1.
Hipotesis Penelitian
1.4.1.
Hipotesis Statistik
1.5. Manfaat
penelitian
1.6. Kerangka
Pemikiran
1.7.Kerangka
Konseptual
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1.
Feritin
2.1.1.
Fungsi Feritin
2.1.2.
Feritin Pada Kehamilan Normal
2.1.3.
Feritin Serum Pada Persalinan Preterm
2.2. Proses
Persalinan
2.3. Persalinan
Preterm
2.4. Faktor-faktor yang
Berpengaruh Pada Persalinan Preterm
2.5. Kerangka
Teori
BAB III METODE DAN TATA KERJA
3.1. Metodologi
Penelitian
3.2. Lokasi dan Waktu
Penelitian
3.3. Populasi dan Sampel
Penelitian
3.3.1.
Populasi Penelitian
3.3.2.
Sampel Penelitian
3.4. Perkiraan
Sampel
3.5. Variabel
Penelitian
3.6. Batasan Operasional
3.7. Instrumen
penelitian
3.8. Tata
Kerja
3.9. Etika
Penelitian
3.10. Alur
Penelitian
3.11. Teknis Analisis
Data
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1.
Kesimpulan
6.2.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Lembar
Persetujuan
2. Satus
penelitian
3. Hasil
pengolahan Data…
4. Master
Tabel
DAFTAR TABEL
Tabel
2.1. Perbandingan parameter biokimia
dikutip dari Sigh B
Tabel 4.1. Karakteristik
Berdasarkan Umur
Tabel
4.2. Karakteristik Berdasarkan Jumlah Paritas…
Tabel
4.3. Karakteristik Berdasarkan Pendidikan…
Tabel
4.4. Karakteristik berdasarkan Pekerjaan…
Tabel
4.5. Karakteristik berdasarkan umur kehamilan ……
Tabel
4.6. Nilai rata-rata kadar Hb ………………
Tabel 4.7. Peluang terjadinya persalinan
preterm …
Tabel 4.8. Perhitungan sensitivitas dan
spesifisitas berdasarkan cut off point ……
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Struktur kompleks
Feritin dikutip dari Wikipedia the free enclycopedi
Gambar 2.2. Besi diserap dari usus disimpan
sebagai feritin pada epitel
usus atau
diangkut dalam plasma
Gambar 2.3. Level Serum ferritin dikutip dari Saha CK,dkk
Gambar 2.4. Potential pathways from choriodecidual
bacterial colonization to PTD
Dikutip
dari Rahkonen Leena
Gambar
2.5. Potential Sites of Bacterial
Infection within the Uterus
Gambar
4.1. Grafik hubungan Makin tinggi kadar
Feritin, makin besar resiko
terjadi persalinan preterm
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Persalinan
preterm didefinisikan sebagai kelahiran sebelum minggu ke -37 kehamilan.
Persalinan preterm merupakan permasalahan yang besar karena berdampak besar
pada bayi yang dilahirkan. Tahun 2001 di USA hamper 28.000 bayi meninggal dalam
tahun pertama kelahiran yang diakibatkan oleh persalinan preterm.1 Kejadian
persalinan preterm dapat meningkat pada beberapa kelompok populasi tertentu dan
hal tersebut tidak mengalami penurunan pada 20-30 tahun terakhir.(2)
Kejadian
persalinan prematur berbeda pada setiap Negara, Insiden persalinan preterm
dinegara maju adalah 5-7%, sedangkan dinegara berkembang 8-12%. Di Amerika
Serikat, antara tahun 1981-2002 jumlah presentase kasus persalinan preterm
meningkat sebanyak 29%. Peningkatan itu terlihat dari sebanyak 470.000 bayi
lahir secara preterm setiap tahunnya. Kasus yang sama terdapat di Kanada,
Australia dan Denmark.(3)
Di
Asia jumlah persalinan preterm mencapai 3 juta kasus pertahun. Penelitian yang
yang dilakukan pada wanita Jepang, Filiphina dan China didapatkan hasil
kejadian persalinan preterm sebelum minggu ke-34 muncul paling banyak pada
wanita Filipina dibandingkan ketiganya.(5)
Persalinan
preterm pada umumnya dihasilkan dari tiga kondisi klinis : (4)
a) Kehamilan
preterm yang mengarah pada persalinan preterm ( persalinan preterm idiopathic).
b) Rusaknya
membran preterm ( preterm preterme
rupture of the membrane; PPROM) yang disebabkan oleh infeksi.
c) Persalina
preterm dengan indikasi medik (iatrogenic)
yang disebabkan oleh karena indikasi maternal seperti preeklampsi atau
perdarahan antepartum.
Beberapa keadaan yang berperan pada terjadinya persalinan
preterm yaitu infeksi intrauterin 47%, perdarahan antepartum 40%, faktor
imunologi 33%, infeksi sistemik dan preeklampsia 10%, anomali uterus 20%,
inkompeten serviks 17% dan trauma akibat tindakan obstetrik.3
Mekanisme terjadinya persalinan preterm sampai saat ini
masih menjadi perdebatan. Terdapat empat mekanisme yang mungkin menyebabkan
terjadinya persalinan preterm, yaitu pertama adanya hipothalamic-pituitary-adrenal axis dari janin dan ibu. Mekanisme
ini terjadi karena stres fetomaternal yang merangsang pelepasan corticotropin realising hormone (CRH)
yang mengakibatkan perubahan regulasi hormon estrogen dan progesteron. Kedua
adalah inflamasi sistemik atau inflamasi pada desidua dan korioamnion.
Mekanisme ini mendukung kejadian infeksi sebagai penyebab persalinan preterm.
Ketiga adalah perdarahan desidua yang menyebabkan solusio plasenta dan keempat
adalah distensi uterus yang patologis seperti kehamilan ganda, polihidramnion
dan kelainan uterus.6
Proses Infeksi dapat menyebabkan persalinan kurang bulan
karena mikroorganisme pada korioamnion menghasilkan fosfolipase A2 dan
fosfolipase C yang akan menstimulasi produksi prostaglandin oleh jaringan
korioamnion. Fosfolipase A2 secara langsung merangsang biosintesis
prostaglandin dengan asam arakidonat sebagai prekursor. Pengambilan langsung sampel
cairan amnion pada persalinan preterm menunjukan adanya bakteri patogen atau
tanda-tanda infeksi seperti peningkatan jumlah leukosit, sitokin esterase dan
penurunan kadar glukosa akibat invasi dari mikroorganisme. Mikroorganisme
tersebut menghasilkan suatu lipopolisakarida (LPS) yang ditemukan dalam cairan
amnion. Lipopilisakarida akan merangsang sel-sel radang seperti makrofag dan
leukosit polimorfonuklear.6
Infiltrasi sel-sel lekosit polimorfonuklear dan makrofag
jaringan korioamnion mengakibatkan dihasilkan feritin, fibronektin dan berbagai
macam sitokin seperti interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), granulocyte
colony- stimulating factor (G-CSF), tumor necrosis factor (TNF-alfa),
interstitial cell adhesion molecule (ICAM). TNF alfa dan IL-1 alfa merupakan
sitokin proinflamasi yang secara transkripsional menginduksi rantai H feritin.
TNF alfa dapat meningkatkan sekresi mRNA untuk menginduksi feritin H. TNF alfa
dalam keadaan ada atau tidak adanya besi eksogen secara dominan dapat
menginduksi feritin. Jadi adanya infeksi dapat menstimulasi sitokin,
selanjutnya sitokin tersebut dapat menstimulasi feritin. Kemudian Sitokin
tersebut menyebabkan peningkatan sekresi prostaglandin yang dapat menyebabkan
peningkatan sekresi prostaglandin yang dapat menyebabkan kontraksi miometrium
dan mengaktifkan kolagenase untuk perlunakan serviks sehingga menyebabkan
inisiasi persalinan prematur.6
Banyak penelitian yang telah
dilakukan untuk mencari identifikasi secara klinis dan marker biochemical
terhadap persalinan prematur, berdasarkan hal tersebut, penulis ingin melakukan
penelitian kadar feritin serum pada persalinan prematur oleh karena di manado
belum pernah diteliti sebelumnya, dan diharapkan dapat digunakan sebagai
prediktor terhadap kejadian persalinan preterm.
1.2.
IDENTIFIKASI MASALAH
Apakah ada hubungan
kadar feritin serum tinggi dengan kejadian persalinan preterm.
1.3.
TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui
kadar serum feritin pada persalinan
preterm dan kehamilan preterm.
1.4. HIPOTESIS
1.4.1.
Hipotesis
Penelitian
Ada
hubungan bermakna antara kadar feritin serum yang tinggi dengan kejadian
persalinan preterm.
1.4.2.
Hipotesis
Statistik
H0 : Kadar feritin serum tinggi tidak memiliki hubungan dengan kejadian
persalinan preterm
H1: Kadar Feritin Serum tinggi memiliki
hubungan dengan kejadian persalinan preterm.
1.5.
MANFAAT PENELITIAN
Apakah
pengukuran kadar serum feritin tinggi dapat dipakai sebagai suatu pemeriksaan
untuk memprediksi adanya persalinan preterm.
1.6. KERANGKA PEMIKIRAN
Persalinan
preterm merupakan suatu sindroma dengan penyebab multifaktor yaitu biokemis,
imunologis, histopatologis, anatomis dan infeksi yang pada akhirnya akan
merusak mekanisme yang mempertahankan kehamilan atau merangsang terjadinya
ancaman persalinan prematur. Beberapa jenis sitokin telah ditemukan berpengaruh
pada saat kehamilan dan berakhir dengan persalinan kurang bulan sehingga
merupakan prediktor yang potensial terhadap kemungkinan terjadinya ancaman
persalinan prematur. 7
Beberapa
penelitian menyebutkan bahwa infeksi berperan penting dalam pathogenesis
persalinan preterm. Mikroorganisme penyebab infeksi menembus barrier serviks
kemudian memicu perubahan pada selaput amnion dan struktur segmen bawah rahim.
Cara lain adalah mikroorganisme merangsang persalinan preterm dengan cara
merusak selaput membran melalui pelepasan protease yang dpat menurunkan
kekuatan selaput membrane janin selanjutnya merangsang persalinan.7
Adanya
infeksi berhubungan dengan penarikan leukosit diikuti dengan produksi sitokin proinflamasi.
Sitokin proinflamasi terdiri dari interleukin-1, interleukin -6 dan tumor necroting factor. Sitokin sendiri
berperan dalam memicu produksi prostaglandin didalam cairan amnion, desidua,
dan miometrium sehingga akan menyebabkan timbulnya kontraksi uterus, dilatasi
serviks, terpaparnya membran janin, dan banyaknya mikrobiologi yang memasuki
cavum uterus.7
Proses
infeksi dapat menyebabkan persalinan preterm karena mikroorganisme yang
menginfiltrasi selaput korioamnion akan menghasilkan produk bakteri yang
disebut fosfolipase A2 dan fosfolipase C yang akan menstimulasi produksi
prostaglandin oleh jaringan korioamnion. Fosfolipase A2 secara langsung
merangsang biosintesis prostaglandin dengan asam arakhidonat sebagai prekrusor.
Mekanisme lain adalah mikroorganisme menghasilkan endotoksin (lipopolisakarida
atau LPS) yang ditemukan dalam cairan amnion. LPS akan menstimulasi sel-sel
radang seperti makrofag dan leukosit (PMN) untuk memproduksi sitokin seperti
interleukin-1 (IL-1), interleukin 6 (IL-6), dan tumor necroting factor (TNF-α) serta menyebabkan dihasilkannya
feritin dan fibronektin.7,8
TNF-α
dan IL-1α merupakan sitokin proinflamasi yang secara transkripsional
menginduksi rantai H feritin. Adanya infeksi dapat menstimulasi sitokin,
selanjutnya sitokin tersebut dapat menstimulasi feritin. 7,8 Penelitian
mengenai hubungan antara feritin dengan persalinan preterm. Goel A, dkk (2003)
dalam penelitiannya kadar feritin serum tidak berbeda dalam setiap usia
gestasi, namun pada kehamilan dengan resiko prematur kadar feritin > 40 mg/dl memiliki
sensitivitas dan spesivitas untuk memprediksi terjadinya kejadian persalinan
prematur. Sampai saat ini proses infeksi dianggap sebagai salah satu penyebab
persalinan preterm. Feritin sebagai protein non sitokin yang mengalami
peningkatan pada proses infeksi.9
Secara
skematis kerangka pemikiran diatas sebagai berikut :
Tingginya angka morbiditas
dan mortalitas bayi
|
Peningkatan produk sitokin
TNF alfa serum
|
Peningkatan prostaglandin
|
Fosfolipase A2 dan C
|
Penelitian
ini membuktikan :
1.
Persalinan
preterm dapat didahului oleh suatu infeksi dalam rahim
2.
Terjadinya
kenaikan feritin serum pada persalinan preterm dibandingkan kehamilan preterm
|
Persalinan preterm
|
Persalinan preterm merupakan
masalah di bidang obstetrik dan perinatologi
|
IL-1 dan IL -6
|
Peningkatan feritin serum
|
Proses infeksi dalam
kehamilan merupakan penyebab utama tingginya angka persalinan preterm
|
1.7. KERANGKA KONSEPTUAL
FERITIN SERUM
|
Kejadian
Persalinan Preterm
|
Infeksi kronik
DM
Preeklampsia
Keganasan
Anemia
A
A
I
|
:
Ruang lingkup penelitian
:Variabel bebas
:Variabel Perancu
:Variabel
tergantung
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. FERITIN
Feritin adalah cadangan besi utama dalam tubuh dan
dijumpai terutama di sel retikuloendotelial pada hati, limpa dan sumsum tulang.
Sejumlah kecil secara normal dijumpai pada sirkulasi plasma. Pada orang dewasa
sehat kadar feritin serum langsung berhubungan dengan cadangan besi dalam tubuh.(9)
Feritin terdiri dari selubung protein yang disebut
apoferitin dan intinya mengandung besi dalam bentuk feri hidroksi fosfat
(FeOOH)8(FeO.PO3H2).(10) Struktur kimiawi feritin berbentuk sferis
yang terdiri dari 24 subunit peptide dan masing-masing terdiri dari subunit H
dan L, yang mempunyai diameter 80 Angstroms.
Gambar. 2.1. Struktur kompleks Feritin dikutip dari Wikipedia the free enclycopedia (11)
Gambar
2.2. Besi diserap dari usus
disimpan sebagai feritin pada epitel usus atau diangkut
dalam plasma, transferin. besi untuk sintesis hemoglobin dari plasma transferin atau
dari daur ulang eritrosit oleh makrofag di sumsum tulang, limpa dan hati. Kelebihan besi untuk untuk produksi hemoglobin disimpan
dalam makrofag sebagai feritin, yang teroksidasi menjadi hemosiderin dan dapat dilepaskan dari makrofag pada
saat dibutuhkan (eritropoiesis meningkat).
Dikutip dari Andrews NC
Cornell University in Basic Iron metabolism, New Engl J Med. 341:1986-1995, Copyright © 1999 Massachusetts
Medical Society .(12)
Apoferitin mempunyai berat melekul 450.000 yang
terdiri dari 24 rantai polipeptida yang masing-masing mempunyai berat melekul
18500 Apoferitin berbentuk bola. Dengan diameter 13 nm. Ditengahnya terdapat
rongga kosong dengan diameter 6 nm. Rongga ini berhubungan dengan bagian luar
melalui 6 buah saluran dimana besi dan molekul-molekul kecil lain dapat keluar
masuk. Besi yang masuk akan dideposit didalam rongga. Dalam keadaan jenuh,
apoferitin dapat mengikat 4000-4500 atom besi dalam bentuk Kristal hidroksi
folat sehingga berat molekulnya menjadi dua kali semula yaitu 900.000 tapi
umumnya apoferitin tidak terisi jenuh dengan besi sehingga berat melekulnya
berbeda-beda. Rata-rata molekul feritin hanya mengandung 3000 atom besi
sehingga masih ada tempat cadangan untuk pengikatan besi. Feritin mempunyai
beberapa bentuk yang dikenal dengan istilah isoferitin ini bersifat spesifik,
masing-masing isoferitin memiliki berat molekul yang berbeda. Sehingga menyebabkan
perbedaan kecepatan pada elektroforesis, ukuran dan sifat imunologisnya. Tiap
spesies mempunyai isoferitin yang berbeda, dalam satu spesies jugs mempunyai
isoferitin berlainan yang berasal dari jaringan yang berbeda. Isoferitin biasa
berasal dari jaringan sumsum tulang, hati, limpa, jantung, ginjal dan sel tumor
seperti hepatoma, tumor mammae dan pancreas dapat menghasilkan acidic isoferitin. Sumsum tulang
mempunyai dua macam isoferitin yaitu anabolik feritin berasal dari sel darah merah
dan katabolik feritin berasal dari retikuloendotelial.(13,14,15)
2.1.1.
Fungsi feritin
Besi dalam feritin berada dalam keseimbangan dinamik
dengan besi plasma. Fungsi utama feritin adalah sebagai penyimpanan besi
intrasel terutama dalam limpa, hati dan sumsum tulang. Besi yang berlebihan
disimpan dan bila diperlukan dimobilisasi kembali. Dapat diperkirakan bahwa
feritin juga memegang peranan dalam retikulosit dipakai untuk sintesa Hb.
Feritin juga memegang peranan dalam pengaturan absorbs besi dari usus. Adanya
apoferitin dalam sel mukosa berfungsi untuk mengikat besi yang berlebihan dalam
sel mukosa supaya tidak kembali ke plasma tapi akan hilang bersama sel mukosa
tua yang terlepas. Dalam klinik nilai feritin yang rendah menunjukan keadaan difisiensi
besi, sedangkan nilai feritin yang tinggi mungkin ditemukan pada beberapa
keadaan infeksi, siderosis hemokromatosis, talasemia, transfusi berulang,
penyakit hati, arthritis rematoid dan keganasan. Kadar feritin serum juga dapat
dipakai untuk membedakan anemia defesiensi besi dari anemia oleh penyakit
menahun. Pada anemia defesiensi besi kadar feritin serum rendah, sedangkan pada
anemia penyakit kronis kadar feritin serum tetap normal.(10)
Beberapa peneliti menghubungkan perubahan
konsentrasi serum feritin atau konsentrasi isoferitin dengan berbagai
komplikasi kehamilan seperti persalinan preterm, preeklampsia dan berat badan
lahir rendah (BBLR).(16)
Besi menjadi sesuatu yang sangat beracun, sehingga kemampuan
untuk menyimpan dan melepaskan besi dalam keadaan terkendali menjadi sangat
penting. Dalam keadaan seimbang kurang lebih 1-2 mg besi perhari dikeluarkan
oleh tubuh melalui pengelupasan sel mukosa deskuamasi menstruasi dan proses
kehilangan darah lainnya. Besi dalam makanan diserap melalui mukosa usus halus,
terutama diduodenum sampai pertengahan jejunum, makin kearah distal usus
penyerapan semakin berkurang. Sebagian besar besi tersebut kurang lebih 70%
bergabung membentuk hemoglobin dalam sumsum tulang dan sel darah merah, 25%
sebagai cadangan dalam bentuk feritin atau hemosiderin dalam sel parenkim hepar
dan sel retikuloendotelial dan 4% dalam bentuk mioglobin. Tubuh orang dewasa
mengandung besi sekitar 55 mg/kgBB atau sekitar 4 gram.(10)
Didalam tubuh, cadangan besi didapatkan dalam dua
bentuk, Bentuk yang pertama adalah feritin yang mudah larut, tersebar di sel
parenkim dan makrofag, terbanyak di hepar. Bentuk kedua adalah hemosiderin yang
tidak mudah larut, lebih stabil tetapi berjumlah lebih sedikit dibandingkan
feritin. Apabila pemasukan besi dari makanan tidak mencukupi, terjadi
mobilisasi besi dari cadangan besi untuk mempertahankan kadar hemoglobin.(15)
Secara primer, feritin merupakan protein intraseluler , tetapi dalam jumlah
terbatas dalam memasuki peredaran darah karena adanya sekresi aktif atau sel
yang lisis. Jumlah feritin dalam sirkulasi tersebut mempunyai konsentrasi yang
paralel dengan kadar feritin sebagai cadangan dalam tubuh. Oleh karena itu
pengukuran terhadap feritin dalam serum dapat menunjukan kadar besi dalam
bentuk cadangan. Dikatakan 1 mikogram perifer feritin dalam serum sebanding
dengan 8 mg besi sebagai cadangan. Berbeda dengan Fe serum, feritin serum tidak
dipengaruhi oleh variasi diurnal.(10,11,12)
2.1.2 . Feritin Pada Kehamilan
Normal
Asif
N dkk (2006), mengemukakan bahwa kadar feritin pada kehamilan normal lebih
rendah pada trimester kedua dibandingkan trimester pertama dan meningkat pada
trimester ketiga. Trimester pertama 26,62 ± 26,58 ng/ml, trimester kedua 11,35
± 9,25, dan trimester ketiga 20,42±23,57 ng/ml. Dan tidak dijumpai korelasi
bermakna antara peningkatan kehamilan dan level feritin serum.(17)
2.1.3. Feritin Serum Pada
Persalinan Preterm
Banyak penelitian klinis dapat memprediksi kejadian
persalinana prematur. Salah satunya adalah feritin. Feritin merupakan protein penyimpan besi dan
meningkat akibat suatu fase reaktan selama peradangan. Feritin merupakan salah
satu penanda inflamasi yang disintesis di berbagai jaringan. Nilai rendah kadar
feritin serum merupakan penanda klinik anemia defisiensi besi namun jika
meningkat, merupakan suatu tanda peradangan akut atau kronis.(6,18,19)
Saha CK, dkk
(2000), Membandingkan kadar feritin serum pada persalinan prematur, Prematur rupture of the membranes (PROM),
dan kehamilan preterm, didapatkan peningkatan bermakna pada persalinan prematur
dan PROM.
Gambar 2.3. Level Serum ferritin dikutip dari Saha
CK,dkk. (20)
Goel A, dkk (2002) memperkirakan kadar serum feritin
pada kehamilan <37 mgg pada wanita
yang memiliki risiko persalinan prematur, didapatkan kadar serum feritin > 40 mg/dl
meningkatkan kejadian persalinan prematur.(8) Dalam penelitian ini
disimpulkan kejadian prematur berhubungan dengan akut fase reaktan. Pada
penelitian Ramsey,dkk (2002) menyatakan bahwa feritin rendah menandakan
defisiensi besi, tapi jika feritin serum tinggi, berhubungan dengan peradangan,
infeksi dan eklamsia, karena feritin di sintesis oleh sejumlah jaringan
terutama di hati dan plasenta. Plasenta membentuk feritin (plasenta isoferitin)
yang saling berhubungan dan mempengaruhi hasil akhir kehamilan. (21)
Weintraub (2003) mengadakan penelitian observasional
prospektif terhadap wanita dengan kehamilan tunggal yang dirawat akibat
persalinan prematur pada trimester
kedua, disimpulkan bahwa konsentrasi feritin ibu > 30 ng/ml pada trimester
kedua berfungsi sebagai penanda untuk kelahiran prematur.(22) Selain
di serum, feritin juga meningkat pada serviks, Ramsey, dkk (2002) mengadakan
penelitian pada 182 wanita dengan persalinan preterm, dan menyimpulkan bahwa, peningkatan servikal
feritin pada kehamilan 22-34 minggu, dapat memprediksi kejadian persalinan
preterm.(21)
Siddika A, dkk (2009) mengadakan penelitian hubungan
sebab akibat dari feritin serum dengan persalinan prematur. Penelitiannya
merupakan studi kasus kontrol pada 120
wanita dari juli 2005- juni 2007, 60
wanita hamil tunggal dengan persalinan prematur (28-36 minggu), sedangkan 60
wanita sebagai kontrol dengan kehamilan > 37 minggu, hasil penelitian didapatkan
Mean ±SD feritin serum kontrol dan prematur 37,01±26,84 g/l adalah 210,37±67,20
g/l perbedaan hasil antara keduanya sangat signifikan (<0,001). Dalam
diskusi kasus ini kemungkinan besar peningkatan serum feritin akibat infeksi
kelamin asimtomatik yang berhubungan dengan reaksi fase akut infeksi subklinis.
Dan dari penelitin ini disimpulkan bahwa
serum feritin dapat dianggap sebagai parameter klinis untuk mendeteksi kejadian
persalinan prematur. Dalam kasus-kasus dengan feritin serum yang tinggi, dapat
direkomendasikan pengobatan untuk mencegah persalinan prematur.(7)
Pada Februari 2012, Movahendi M, dkk mengadakan
penelitan terbaru pada 222 wanita dengan membandingkan persalinan prematur
(<37 minggu) dengan persalinan aterm (>37 minggu) dan menghasilkan kadar
feritin meningkat pada persalinan preterm (26.7 ±
5.5 ng/mL dibanding dengan 19.8 ± 3.6 ng/mL, P<0.001), dengan sensitivity of 78.3%, specificity of 83.0%.(23)
Hermawan H, dkk (2011) dalam
penelitiannya, membandingkan 36 ibu hamil dengan persalinan kurang bulan dan 36
kehamilan kurang bulan menghasilkan kadar feritin serum dan TNFα serum lebuh
tinggi pada persalinan kurang bulan dibandingkan kehamilan kurang bulan, kadar
feritin serum persalinan kurang bulan
55,28 (19,3)ng/ml dan kehamilan kurang bulan 23,28(7,33) ng/ml. terdapat
korelasi positif pada persalinan kurang bulan.24
Singh B, dkk (2010) menguji penanda biokimiawi pada
persalinan prematur, empat puluh wanita dengan tanda persalinan prematur (28-34
minggu) diperiksa kadar ACTH, Preolaktin, TSH dan feritin.
Tabel 2.1. Perbandingan parameter biokimia dikutip dari Sigh
B.18
Parameter
|
Cases
|
Controls
|
P Value
|
ACTH (pmoles/l)
|
9.1 ± 6.3
|
2.5 ± 2.9
|
<0.001
|
TSH (μIU/ml)
|
3.2 ± 1.8
|
2.2 ± 0.8
|
0.124
|
Prolactin (μIU/l)
|
175.8 ± 103.2
|
165.9 ± 57.4
|
0.895
|
Iron (μg/dl)
|
91.3 ± 57.7
|
67.1 ± 36.7
|
0.243
|
Ferritin (μg/dl)
|
169.9 ± 83.9
|
68.5 ± 24.2
|
<0.001
|
ALP (IU/l)
|
276 ± 84.5
|
184.2 ± 54.1
|
0.004
|
Ferritin/iron
|
2.16 ± 0.88
|
1.35 ± 0.73
|
0.039
|
Pada penelitian ini, serum feritin muncul sebagai
biomarker prediktif unggul dibandingkan dengan parameter biokimia yang lainnya
untuk memprediksi kejadian persalinan preterm.(18)
Mekanisme fisiologis kejadian persalinan prematur
dapat terjadi akibat iskemia plasenta dan peradangan akut. Hubungan proses
inflamasi sistemik lokal pada saluran kelamin dapat membuktikan terjadinya
persalinan prematur spontan. Penanda infeksi dan peradangan (misalnya PH
vagina, fibronektin,serum, interleukin-6 dan serum feritin dapat menjadi
diagnosis awal terjadinya persalinan prematur. Serum feritin merupakan acute-phase reactan yang diketahui akan
meningkat dalam respon dari banyak kondisi inflamasi. (25,26) Inflamsi
kronik juga menekan eritropoiesis, rendahnya penggunaan besi/Fe dan akan
meningkatkan penyimpanan besi/Fe. Meningkatnya penyimpanan besi ditunjukan
dengan meningkatnya level serum feritin.(21)
Pada infeksi akut inflamasi terjadi proses
vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, pembentukan sel-sel
peradangan (terutama neutrofil pada peradangan akut), pelepasan mediator
peradangan dari sel-sel ini ( amina vasoaktif, prostanoid dan intermediate
oksigen reaktif), dan pelepasan sitokin, IL-1, dan IL-6, terutama dihasilkan
sebagai respon akut, suatu perubahan produksi protein plasma oleh sel hati. Pada
inflamasi terjadi peningkatan IL-1, TNF-α dan interferon gamma yang menghambat
produksi eritropetin (EPO) serta menghambat efek ploriferasi dan maturasi
precursor eritroid sehingga simpanan besi dalam tubuh meningkat.21 Menurut
Beard JL, dkk dalam Clin A MJ (2006), dengan adanya respon fase akut pada
infeksi dan inflamasi yang sehingga terjadi peningkatan kadar feritin serum,
mekanismenya diakibatkan karena makrofag menghasilkan sitokin inflamasi yang
menghasilkan oksigen reaktif yang melepaskan feritin.(18,27)
Dengan adanya fase akut reaktan pada infeksi
korionik menstimulasi sintesis prostaglandin dan merangsang kontraksi uterus
sampai terjadi persalinan preterm. Setiap Mekanisme yang bertanggungjawab pada
munculnya suatu persalinan preterm terdapat kemungkinan adanya campur tangan
dari lingkungan dan genetik. (21) Goodarzi Bashardoost N (2009)
dalam penelitiannya tentang hubungan serum feritin dengan kontraksi uterus pada
persalinan preterm, menyatakan bahwa feritin dapat memprediksi persalinan
preterm dengan mekanisme koloni bakteri pada koriodesidual memproduksi sitokin,
alfa tumor nekrosis faktor, IL-1, IL-8 dan granulosit koloni stimulating faktor
merangsang stimulasi prostaglandin dan aktivasi neutrofil serta produksi
metalloproteinase. Prostaglandin menstimulasi persalinan preterm dan
mataloproteinase melemahkan membrane korioamniotik dan melemahkan jaringan
kolagen serviks. Feritin meningkat pada 48-72 jam sebelum kontraksi. Pada
wanita usia subur, kadar feritin serum 20-120ng/ml. Wanita normal 28,5% pada
keadaan seimbang memiliki kadar feritin serum 20-25ng/ml. (28)
Pencegahan kejadian persalinan preterm masih
merupakan masalah bagi ahli kebidanan, selain karena faktor etiologi yang belum
jelas, juga masih banyak faktor risiko yang dapat menyebabkan kegagalan
pencegahan persalinan preterm yang utama adalah keterlambatan dalam melakukan
diagnosis dini terhadap kemungkinan terjadinya persalinan.
2.2.
PROSES PERSALINAN
Cunningham
secara klinis dan fisiologis membagi persalinan atas 3 hal yang jelas berbeda
tetapi fasenya saling overlap.(1)
·
Fase pertama adalah saat persiapan
persalinan, yaitu proses pematangan serviks dan bertambah seringnya kontraksi
otot rahim tanpa disertai nyeri atau sakit.
·
Fase kedua dimulai dengan onset
persalinan, yaitu adanya kontraksi rahim yang teratur, kuat, dan nyeri sehingga
terjadi pembukaan serviks dan lahirnya bayi.
·
Fase ketiga dimulai setelah lahirnya
bayi. Dengan kontraksi rahim yang persisten terjadinya involusi rahim sampai
seluruh organ ini kembali seperti saat sebelum hamil.
2.3. PERSALINAN PRETERM
Usia
kehamilan merupakan salah satu prediktor penting bagi kelangsungan hidup janin
dan kualitas hidupnya. Umumnya kehamilan disebut cukup bulan bila berlangsung
antara 37-41 minggu dihitung dari hari pertama siklus haid terakhir pada siklus
28 hari. Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi sebelum janin genap
berusia 37 minggu.(3)
Definisi prematur pertama kali
digunakan sebagai standar oleh Nikolaus T
Miller, dokter kepala di The Moscow
Foundling Hospital. The American
Academy of Pediatrics mengadopsi standar ini pada tahun 1935. Pada tahun
1948, WHO menetapkan prematuritas sebagai berat badan lahir 2500 gram atau
kurang. Pada tahun 1961 WHO menambahkan usia gestasi sebagai satu kriteria bayi
prematur, yaitu bayi yang lahir pada usia gestasi 37 minggu atau kurang. Dibuat
pembedaan antara berat badan lahir rendah (2500 g atau kurang) dan prematuritas
(37 minggu atau kurang). Lembaga lain telah mengusulkan bahwa kelahiran preterm
didefinisikan sebagai bayi yang dilahirkan sebelum lengkap 37 minggu ( American Collegge of Obstetricians and
gynecologist, 1995).(3)
Kejadian persalinan prematur berbeda
pada setiap negara, di Negara maju, misalnya di Eropa, angkanya berkisar antara
5-11%. Di USA, pada tahun 2000 sekitar satu dari Sembilan bayi dilahirkan
prematur (11,9%), dan di Australia kejadiannya sekitar 7%. Meskipun di
Negara-negara maju deteksi dini, pencegahan, dan pengelolaan persalinan
prematur telah dilakukan dengan baik, namun dalam dekade terakhir terdapat
sedikit kenaikan insiden sebagai akibat dari meningkatnya angkatan kerja
wanita, meningkatnya kehamilan dengan teknologi berbantu (bayi tabung, ART-assisted reproductive technique)
yang meningkatkan kejadian bayi kembar. Namun di Swedia (5,6%), Perancis,
Finlandia dilaporkan kejadian persalinan prematur menurun.(3)
Di
Indonesia angka kejadian prematuritas nasional belum ada, namun angka kejadian
Bayi dengan Berat Badan Lahir rendah (BBLR) dapat mencerminkan angka kejadian
prematuritas secara kasar. Angka kejadian BBLR nasional RS adalah 27,9%. Lima
provinsi mempunyai presentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27,0%),
Papua Barat (23,8%), Nusa Tenggara Timur (20,3%), Sumatra Selatan (19,5%), dan
Kalimantan Barat (16,6%).3
Pada tahun 2008, dari Di
antara 6452 bayi yang dilahirkan terdapat 465 (7,2 %) bayi preterm
tercatat
di RSUP Prof R.D.Kandou Manado.(29) Sedangkan Menurut pada tahun 2009-2010, terdapat 466
kasus persalinan prematur (7,50%) di
RSUP Prof R.D.Kandou Manado.30 Menurut Wantania J, dkk (2010)
Penyebab Kematian neonatal dini pada RSU Prof Kandou Manado, 23% akibat
prematuritas.31
Persalinan preterm pada umumnya
dihasilkan dari tiga kondisi :(5)
a) Kehamilan
preterm yang mengarah pada persalinan preterm (persalinan preterm idiopathik).
b) Rusaknya
membran preterm (preterm preterme rupture
of membrane;PPROM) yang disebabkan umumnya oleh adanya infeksi. Kondisi ini
merupakan factor penyumbang terbesar dalam penyebab terjadinya persalinan
preterm.
c) Persalinan
preterm dengan indikasi medik (iatrogenic)
yang disebabkan oleh karena komplikasi maternal seperti preeklampsi atau
perdarahan antepartum, korioamnionitis, penyakit jantung yang berat, paru, ginjal
yang berat. Keadaan janin yang dapat menyebabkan persalinan prematur dilakukan
adalah gawat janin, infeksi intrauterin, Pertumbuhan janin terhambat (IUGR),
Isoimunisasi rhesus.(32)
2.4. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
PADA PERSALINAN PRETERM
Beberapa
faktor yang mempengaruhi terjadinya persalinan preterm adalah adanya kontraksi
preterm, ketuban pecah dini, inkompetensi serviks, atau amnionitis. Pada kasus
persalinan preterm yang lain ternyata ditemukan adanya kelainan pada plasenta
ataupun arteri uterina. Apabila melihat data diatas maka persalinan preterm
diperantarai oleh jalur endokrin yang disebabkan oleh teraktivasinya jalur
hipotalamus-pituitari-adrenal janin yang dipicu oleh stress pada janin dan ibu.
Namun pada sebagian besar kasus, penyebab persalinan preterm tidak terdiagnosis
karena penyebabnya multifaktorial.(32)
Patogenesis persalinan preterm
spontan sangat kompleks, berdasarkan studi epidemiologi terdapat perbedaan
berdasarkan usia kehamilan dan factor resikonya. Persalinan preterm dini yang
terjadi sebelum 32 minggu lebih sering diakibatkan oleh adanya infeksi dan
lebih sering terjadi pada etnis Afro-Amerika serta hubungan dengan morbiditas
janin jangka panjang. Persalinan preterm spontan yang terjadi setelah 32 minggu
sering diakibatkan oleh peningkatan volume uterus yang diakibatkan hidramnion
atau kehamilan multiple dan lebih jarang yang berhubungan dengan infeksi.(33)
Faktor-faktor
yang berhubungan dengan persalinan preterm spontan yaitu :
Riwayat
obstetrik sebelumnya
Riwayat persalinan preterm
sebelumnya meningkatkan risiko persalinan preterm pada persalinan preterm pada
kehamilan sekarang. Diketehui bahwa risiko persalinan preterm meningkat pada
wanita yang pernah mengalami persalinan preterm sebelumnya. Menurut pennel
(2007) yang menyebutkan bahwa wanita yang pernah mengalami persalinan preterm
pada kehamilan berikutnya sebesar 15%.(5)
Angka kejadian persalinan preterm
yang berulang dapat pula disebabkan oleh genetik, hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan Hoffman dan
Ward (1999) yang menduga bahwa genetic berperan sebagai penyebab persalinan
preterm. Gen yang mengatur Decidual
relaxin merupakan salah satu kandidatnya.(1)
Faktor
Uterus
Persalinan preterm terjadi pada
25-50% wanita dengan kelainan bentuk uterus. Proses persalinan preterm ini
dapat terjadi spontan ataupun dengan indikasi. Kelainan bentuk uterus ini
sering disertai kelainan fungsi serviks atau kelainan implantasi plasenta yang
meningkatkann kemungkinan persalinan preterm. Kontraksi uterus yang terjadi
sebelum usia kehamilan 35 minggu cukup bermakna meningkatkan angka persalinan
preterm.
Kehamilan
Multipel
Hubungan kehamilan multiple dengan
persalinan preterm sudah jelas diketahui, yaitu akibat peregangan uterus yang
berlebihan, angka ini sering sering menjadi semakin meningkat berhubungan
dengan bertambahnya kehamilan multiple dengan assisted reproductive technology.
Faktor
Gaya Hidup
Perilaku
seperti merokok, gizi buruk dan penambahan berat badan yang kurang baik selama
kehamilan, serta penggunaan obat seperti kokain atau alcohol telah dilaporkan
memainkan peranan penting pada kejadian dan hasil akhir bayi dengan berat badan
lahir rendah. Beberapa efek ini tidak diragukan lagi disebabkan oleh
pertumbuhan janin terhambat serta kelahiran preterm.(3) Faktor ibu
lainnya yang dikaitkan adalah umur ibu yang muda, kemiskinan, perawakan pendek,
dan factor-faktor pekerjaan. (3)
Faktor gaya hidup lain adalah stress
psikologis pada ibu. Hedegaard dkk. (1993) dikutip dari (3) melakukan
penelitian prospektif tentang ukuran stress psikologisdengan menggunakan
kuisioner pada 5872 wanita dengan kehamilan tunggal. Ditemukan ada hubungan
langsung antara stress psikologis pada minggu ke 30 dan kelahiran sebelum usia
37 minggu.
Infeksi
Infeksi intrauterin dikenal sebagai
salah satu penyebab kelahiran prematur paling penting dan paling potensial yang
dapat dicegah. Infeksi ini diperkirakan bertanggung jawab untuk sampai 50%
kelahiran prematur ekstrim yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 28
minggu, dimana tingkat dari mortalitas dan morbiditas neonatalnya tinggi.
Prevalensi dan invasi khorioamnion oleh mikroba adalah 73% pada wanita dengan kelahiran prematur spontan
sebelum 30 minggu masa kehamilan dan hanya 16 % diantara wanita yang
diindikasikan akan mengalami kelahiran prematur tanpa di ikuti persalinan.(3)
Prevalensi dari korioamnionitis
histologist berbanding terbalik dengan usia kehamilan dan terjadi pada 60%
sampai 90% dari kehamilan yang berakhir pada usia kehamilan antara 20 dan 24
minggu; infeksi microbial dari korioamnion terjadi pada 60% pasien dengan
kelahiran prematur. Lebih jauh lagi, infeksi pada sebagian wanita yang
mengalami persalinan prematur dengan bukti adanya invasi microbial pada cairan
amnion ternyata tidak memberikan respons terhadap terapi tokolitik standard an
mengakibatkan kelahiran prematur yang cepat (pada 62% wanita dengan bukti
invasi microbial tapi hanya 13% pada wanita dengan cairan amnion yang steril).
Hal ini member kesan bahwa patofisiologi dari persalinan prematur yang
berhubungandengan infeksi berbeda dari persalinan prematur idiopatik.(3)
Gambar 2.4 Potential pathways from
choriodecidual bacterial colonization to PTD
Dikutip dari Rahkonen Leena.(33)
Infeksi
pada persalinan prematur 38% disebabkan infeksi korioamnion (Lettieri,dkk
1993). Knox dan Houner (1950) telah mengetahui hubungan infeksi jalan lahir
dengan persalinan prematur. Bobbit dan Ledger (1997) membuktikan infeksi amnion
subklinis sebagai penyebab kelahiran preterm. Dengan amniosentesis didapati
bakteri pathogen pada20% ibu yang mengalami persalinan preterm dengan ketuban
utuh dan tanpa gejala klinis infeksi.(35)
Cara
masuknya kuman penyebab infeksi amnion, dapat sebagai berikut : (34,35)
1. Melalui
jalur transvesikal masuk kedalam selaput amniokorion dan cairan amnion. E. Coli
dapat menembus menembus membran korioamnion.
2. Melalui
jalur transervikal ke desidua/chorionic junction pada segmen bawah rahim.
3. Penetrasi
langsung ke dalam jaringan serviks.
4. Secara
hematogen keplasenta dan selaputnya.
5. Secara
hematogen kemiometrium.
Selain
itu endotoksin dapat masuk kedalam rongga amnion secara difusi tanpa kolonisasi
bakteri dalam cairan amnion.(34)
Infeksi
saluran kemih dan jalan lahir (traktus urogenital) sangat berkaitan dengan
persalinan prematur. Infeksi ini biasanya mewakili infeksi bakteri yang
menjalar secara ascendens dari saluran genital bawah; sedangkan infeksi virus
belum pernah diimplikasikan sebagai penyebab yang signifikan dari persalinan
prematur.
Gambar 2.5. Potential Sites of Bacterial Infection within the Uterus.(36)
Sumber infeksi yang berhubungan dengan
kejadian persalinan prematur adalah: (37)
a) Infeksi
Genital, antara lain oleh :
-
Bacterial vaginosis
-
Group B Streptococcus
-
Clamydia trachomatis
b) Infeksi
Intra uterin :
-
Penjalaran dari saluran genital
-
Melalui plasenta
-
Melalui darah (Blood borne)
-
Melalui saluran telur (Transfalopian,intraperitoneal)
-
Iatrogenic (akibat prosedur invasif)
c) Infeksi
Ekstra uterin:
-
Radang piala ginjal (pielonefritis)
-
Bakteriuri tanpa gejala (asymptomatic
bacteriuria)
-
Periodontitis
-
Malaria
-
Penyakit radang paru (pneumonia)
Diperkirakan
90% dari pasien yang mengalami infeksi cairan amnion, menunjukan adanya mikroba
dari vagina dan serviks. Namun, pada 1-2% kasus bakteri dapat menginvasi uterus
melalui prosedur chorionic villus sampling dan penyebaran hematogen melalui
plasenta.
Rangsangan untuk terjadinya
persalinan secara biokimiawi diterangkan sebagai berikut:(3)
-
Infeksi dapat mencetuskan berbagai
komponen biokimiawi baik lokal maupun sistemik.
-
Mikroorganisme melepaskan enzim protease
yang menghidrolisis barier mucus serviks sehingga mikrooganisme dapat
menembus/memasuki servis.
-
Protease yang dihasilkan oleh mikroorganisme
tersebut akan melemahkan jaringan kolagen pada selaput membrane korioamnion.
-
Mikroorganisme tersebutjuga melepaskan
enzim sialidase yang akan mempengaruhi asam sialat sebagai komponen mucus
serviks sehingga daya tahan mucus serviks hilang.
-
Pada umumnya mikroorganisme ini adalah
jenis anaerob yang menghasilkan senyawa garam dari asam lemak yang akan
menghambat fibroblast dan melemahkan kekuatan membran korioamnion.
-
Infeksi menyebabkan pembentukan
fosfolipase A2 yang menginisiasi sintesis prostaglandin sebagai inisiator
kontraksi uterus
-
Infeksi korioamnion merangsang
pembentukan sitokin dan mediator inflamasi. Penelitian membuktikan bahwa
Interleukin (il-1) dan il-6 didapatkan dengan kadar yang tinggi pada persalinan
prematur.
-
Peran sperma dalam menghantarkan
mikroorganisme saat koitus juga telah diteliti dan membuktikan bahwa sperma
merupakan alat transport mikroorganisme dari vagina dan serviks ke uterus.
2.5. KERANGKA TEORI
Aktivasi
maternal/fetal HPA axis
|
Pemakaian besi
|
(Sitokin,IL-6,
fibrinektin,tnfα, if gamma )
|
Fase akut reaktan
|
Menekan eritropoiesis
|
Cadangan /Simpanan besi
|
Serum Feritin
|
Liver, limpa, tulang, plasenta
|
BBLR, Preeklampsia
|
Sintesis prostaglandin
|
Persalinan preterm
|
Kontraksi Uterus
|
transferin
|
hemosiderin
|
PPROM
|
Membran intak
|
Inflamasi/ infeksi chorion, sistemik
|
Desidual hemoragik
|
Distensi uterus patologis
|
BAB
III
METODE
DAN TATA KERJA
3.1
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini
merupakan penelitian Cross Sectional yang bersifat korelatif.
3.2.
LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian dilakukan dibagian Obstetri dan Ginekologi FK UNSRAT/RSU
Prof DR RD Kandou Manado. Data penelitian diambil dari ibu hamil preterm dan
ibu dengan persalinan preterm, yang dimulai pada bulan Mei 2012 sampai jumlah
sampel terpenuhi
3.3.
POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
3.3.1.
POPULASI PENELITIAN
Populasi dalam
penelitian ini, yakni populasi ibu hamil normal dan ibu hamil dengan persalinan
prematur yang datang di kamar bersalin dan poliklinik Bagian Obstetri dan
Ginekologi FK Unsrat/ RSU Prof.RD. Kandou Manado yang memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi.
3.3.2.
SAMPEL PENELITIAN
Sampel
adalah bagian dari populasi yang dipilih terdiri dari dua kelompok sebagai
berikut :
1. Kelompok
wanita hamil dengan usia kehamilan preterm/< 37 minggu yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi.
2. Kelompok
wanita hamil dengan persalinan preterm yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi
KRITERIA INKLUSI
1. Ibu
hamil preterm (Kehamilan kurang dari 37 minggu) dengan bayi < 2500 gram
2. Ibu
yang mengalami persalinan preterm (kehamilan kurang dari 37 minggu) dengan bayi
< 2500 gram
3. Mengetahui
kapan hari pertama haid terakhirnya (HPHT)
4. Kehamilan
tunggal janin baik secara USG maupun pemeriksaan fisik
5. Bersedia
mengikuti penelitian ini dengan menyetujui inform consent.
KRITERIA EKSLUSI
1. Usia
kehamilan tidak diketahui dengan jelas
2. Kehamilan
multiple, polihidramnion, kelainan congenital janin
3. Anemia
: Hb<10gr/dl
4. Mengalami
infeksi sistemik, DM,Penyakit hati,ginjal, dan keganasan
5. Mengalami
ketuban pecah dini
6. Menolak
mengikuti penelitian ini
3.4. PERKIRAAN BESAR SAMPEL
Besar sampel dihitung berdasarkan rumus
di bawah ini :
(Zα – Zβ) 2
n
= 0,5 n 1+r +
3
1-r
Agar
rumus ini dapat digunakan maka diperlukan informasi awal tentang :
Nilai
α yang akan digunakan untuk menguji H0,
Nilai
β atau power yang akan digunakan ( power = 1-β) dan
Nilai
koefesien korelasi X dan Y, yakni nilai r ( nilai ini diperoleh dari penelitian
sebelumnya atau dalam literature, atau melalui penelitian prapenelitian).
Jika
digunakan α= 0,05 dan power = 0,80 serta r = 0,40 maka diperoleh
1,64-(-0,842) 2
n
= 0,5 ln 1+0,40 +3 = 40
1-0,40
3.5. VARIABEL PENELITIAN
Variabel
tergantung : Kejadian persalinan preterm
Variabel
bebas : Kadar Feritin Serum
3.6. BATASAN OPERASIONAL
1. Kehamilan
preterm adalah kehamilan normal dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu
dengan taksiran berat badan janin kurang dari 2500 gram
2. Persalinan
preterm adalah adanya kehamilan kurang dari 37 minggu dengan taksiran berat
badan janin kurang dari 2500 gram, disertai dengan tanda persalinan dengan effacement
50% atau lebih, pembukaan <3 cm, kontraksi uterus : 4-6 / jam
3. Kadar
feritin adalah penilaian kadar darah yang diambil dari serum untuk diperiksa
kadar feritin yang diambil pada ibu yang hamil preterm dan ibu yang mengalami
persalinan preterm. Nilai normal feritin serum 15-120 ng/mL.Dalam keadaan
seimbang 28,5% wanita usia subur memiliki kadar serum feritin 20-25 ng/ml.
3.7. INSTRUMEN PENELITIAN
·
Status penelitian
·
Inform Consent
·
Disposible, botol sample (lab)
3.8. TATA KERJA
a. Penelitian
ini dilakukan pada subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi
dengan diberi penjelasan tentang prosedur penelitian yang akan dilakukan dan
manfaatnya.
b. Bagi
calon subjek penelitian yang bersedia mengikuti penelitian ini diminta mengisi
dan menandatangani formulir persetujuan (inform consent) yang telah tersedia
c. Subjek
penelitiian ini dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan kemudian dicatat
dalam status penelitian. Kemudian ibu hamil dengan kehamilan preterm dan ibu
yang mengalami persalinan preterm sebagai subjek penelitian akan diambil
darahnya, dan sampel darah tersebut akan dibawa ke laboratorium Prokita untuk
dilakukan pengukuran kadar feritin serum dengan electrochemiluminescence
immunoassay (ECLIA) dengan menggunakan kit komersial tersedia (Roche
Diagnostik, Jerman) dengan analitis sensitivitas 0,5ng/ml dan koefisien variasi
berkisar dari 1,8 sampai 2%.
3.9. ETIKA PENELITIAN
Setiap
pasien yang akan diikut setakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan prinsip
dan etika penelitian, yaitu setiap ibu hamil preterm dan ibu yang mengalami
persalinan preterm yang memenuhi kriteria inklusi dan diikutsertakan dalam penelitian ini akan
dilakukan konseling terlebih dahulu. Bila setuju, calon subjek penelitian ini
harus menandatangani surat persetujuan penellitian (inform consent)
Penelitian
ini dilakukan dengan persetujuan ijin dari Direktur dan Komisi Medik Etik RSU
Prof.Dr.RD Kandou Manado, Kepala bagian / SMF dan Ketua Program Studi Obstetri
Ginekologi FK Universitas Sam Ratulangi Manado, setelah proposal penelitian ini
disetujui akan dilampirkan Surat Persetujuan dari Direktur/Komisi medic RSU
Prof. Dr.R.D. Kandou Manado.
3.10. ALUR PENELITIAN
PEMERIKSAAN
DAN PENGAMBILAN SAMPEL DARAH
|
WANITA
HAMIL
|
PERSALINAN
PRETERM
|
KEHAMILAN
PRETERM
|
KRITERIA
INKLUSI
|
ANALISIS
DATA
|
3.11.TEKNIK ANALISIS DATA
Penelitian
ini dilakukan pengumpulan data dituangkan dalam bentuk tabel, selanjutnya
dilakukan :
1. Analisis
Deskriptif (karakteristik ibu)
2. Analisis
regresi logistik
Data
yang diperoleh, diolah dengan menggunakan program statistik SPSS for windows
versi 20.00
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian
dilakukan terhadap 21 wanita hamil yang didiagnosis dengan persalinan preterm
dan 20 wanita hamil dengan kehamilan normal. Penelitian ini dimulai dari bulan
mei 2012 dan berakhir bulan Agustus 2012 di BLU.RSU.Prof.Dr.R.D.Kandou Manado.
Ukuran sampel dihitung sehingga
mencapai sampel minimal yang dapat dihitung secara statistic dan telah
dilakukan penilaian karakteristik yang meliputi umur, paritas dan usia
kehamilan. Penelitian merupakan penelitian cross sectional yang bersifat
korelatif. Populasi sasaran adalah wanita hamil preterm yang memenuhi kriteria
penelitian. Data yang diperoleh diolah melalui program SPSS windows version 20.
Hasil yang diperoleh diuraikan dalam bentuk tabel dibawah ini:
Tabel
4.1. Karakteristik Berdasarkan Umur
Variabel
|
Kehamilan preterm
n %
|
Persalinan preterm
n %
|
< 20
20-24
25-29
30-34
>=35
Total
|
3 15,0
2 10,0
2 10,0
8 40,0
5 20,0
20 100,0
|
5 23,8
3 14,3
5 23,8
5 23,8
3 14,3
21 100,0
|
Pada
tabel I berdasarkan karakteristik umur didapatkan pada kelompok wanita dengan
persalinan preterm usia terbanyak adalah <20,25-29,30-34, 5 kasus (23,8%),
usia termuda <20 tahun sebesar 5 kasus (23,8%).
Tabel
4.2. Karakteristik Berdasarkan Jumlah Paritas
Variabel
|
Kehamilan preterm
n %
|
Persalinan preterm
n %
|
Primipara
Multiparitas
2
3
4
5
6
Total
|
4 20,0
8 40,0
2 10,0
4 20,0
1 5,0
1 5,0
20 100,0
|
8 38,1
4 19,04
8 38,1
1 4,76
0 0
0 0
21 100,0
|
Dari tabel 4.2 tampak bahwa subjek
penelitian berdasarkan jumlah paritas terbanyak primipara 8 sampel (38,1%) dan
multiparitas tiga pada persalinan preterm . Pada kehamilan preterm terbanyak
multiparitas dua sebanyak 8 sampel (40%).
Tabel
4.3. Karakteristik Berdasarkan Pendidikan
Variabel
|
Kehamilan preterm
n %
|
Persalinan preterm
n %
|
Sarjana
SMU/SMK
SMP
SD
Total
|
2 10,
15 75,0
3 15,0
0 0
20 100,0
|
1 4,8
15 71,4
4 19,0
1 4,8
21 100,0
|
Dari tabel 4.3 tampak bahwa subjek
penelitian berdasarkan pendidikan terakhir tebanyak SMU/SMK 15 (71,4) pada
persalinan preterm. Pada kehamilan preterm terbanyak juga lulusan SMU/SMK
sebanyak 15 (75,0%).
Tabel
4.4. Karakteristik berdasarkan Pekerjaan
Variabel
|
Kehamilan preterm
n %
|
Persalinan preterm
n %
|
PNS
Swasta
IRT
Total
|
3 15,0
2 10,0
15 75,0
20 100,0
|
0 0
0 0
21 100,0
21 100,0
|
Pada
tabel 4.4 tampak bahwa subjek penelitian berdasarkan pekerjaan sebanyak 21
sampel (100%) IRT pada persalinan preterm. Sedangkan pada kehamilan preterm
terbanyak IRT sebanyak 15 (75%).
Tabel
4.5. Karakteristik berdasarkan umur kehamilan
Variabel
|
Kehamilan preterm
n %
|
Persalinan preterm
n %
|
28-32
33-<37
Total
|
12 60,0
8 40,0
20 100,0
|
11 52,3
10 47,7
21 100,0
|
Tabel
4.5 tampak bahwa kejadian persalinan preterm terbanyak pada umur kehamilan
28-32 minggu sebanyak 11 kasus (52,3%), dan pada kehamilan preterm terbayak 12
kasus (60%) pada kehamilan 28-32 minggu.
Tabel
4.6. Nilai rata-rata kadar Hb
Kadar Hb
|
Kehamilan preterm
|
Persalinan Preterm
|
N
Rata-rata
Simpang baku
|
20
11,13
0.87
|
21
11,08
0.84
|
Berdasarkan analisis regresi logistik diperoleh persamaan
Hasil
ini menunjukan terdapat hubungan yang sangat bermakna antara kadar feritin
serum dan peluang terjadinya persalinan preterm (p<0,01).
Secara
grafik hubungan antara besarnya kadar Feritin dan peluang terjadinya persalinan
preterm pada ibu dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar ini menunjukkan bahwa makin tinggi kadar
Feritin, makin besar resiko terjadi persalinan preterm.
Gambar 4.1. Grafik
hubungan Makin tinggi kadar Feritin, makin besar resiko terjadi persalinan
preterm.
Dari persamaan regresi logistik di atas diperoleh cut off point kadar Feritin adalah
-6,280 + 0,174 Feritin = 0 Ã Feritin = 36,1 ng/ml. Dengan persamaan regresi logistik di atas diperoleh
besarnya peluang terjadinya persalinan preterm pada masing-masing ibu (41ibu)
yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel
4.7. Peluang terjadinya persalinan preterm
No
|
Kadar Feritin
|
Besarnya Peluang
terjadi Persalinan Preterm
|
Persalinan
|
Kategori Persalinan
Preterm dengan cut off point Feritin
= 36,1 ng/ml
|
1
|
4.53
|
.00411
|
Preterm
|
Normal
|
2
|
12.50
|
.01632
|
Normal
|
Normal
|
3
|
12.55
|
.01646
|
Normal
|
Normal
|
4
|
12.72
|
.01695
|
Normal
|
Normal
|
5
|
16.40
|
.03172
|
Normal
|
Normal
|
6
|
16.72
|
.03348
|
Normal
|
Normal
|
7
|
17.51
|
.03824
|
Normal
|
Normal
|
8
|
20.50
|
.06278
|
Normal
|
Normal
|
9
|
20.82
|
.06615
|
Normal
|
Normal
|
10
|
21.07
|
.06889
|
Normal
|
Normal
|
11
|
21.14
|
.06968
|
Normal
|
Normal <36,1 ng/ml
|
12
|
22.13
|
.08175
|
Normal
|
Normal
|
13
|
23.16
|
.09629
|
Normal
|
Normal
|
14
|
23.91
|
.10829
|
Normal
|
Normal
|
15
|
24.12
|
.11188
|
Normal
|
Normal
|
16
|
24.90
|
.12613
|
Normal
|
Normal
|
17
|
25.40
|
.13606
|
Normal
|
Normal
|
18
|
25.83
|
.14513
|
Normal
|
Normal
|
19
|
26.14
|
.15197
|
Normal
|
Normal
|
20
|
29.27
|
.23628
|
Normal
|
Normal
|
21
|
30.25
|
.26850
|
Normal
|
Normal
|
22
|
40.71
|
.69480
|
Preterm
|
Preterm
|
23
|
45.60
|
.84234
|
Preterm
|
Preterm
|
24
|
48.50
|
.89859
|
Preterm
|
Preterm
|
25
|
50.39
|
.92494
|
Preterm
|
Preterm
|
26
|
51.43
|
.93660
|
Preterm
|
Preterm
|
27
|
55.20
|
.96612
|
Preterm
|
Preterm
|
28
|
55.73
|
.96902
|
Preterm
|
Preterm
|
29
|
56.50
|
.97281
|
Preterm
|
Preterm
|
30
|
57.50
|
.97706
|
Preterm
|
Preterm
|
31
|
57.50
|
.97706
|
Preterm
|
Preterm
|
32
|
58.70
|
.98132
|
Preterm
|
Preterm >36,1 ng/ml
|
33
|
59.40
|
.98343
|
Preterm
|
Preterm
|
34
|
62.20
|
.98977
|
Preterm
|
Preterm
|
35
|
76.50
|
.99915
|
Preterm
|
Preterm
|
36
|
92.40
|
.99995
|
Preterm
|
Preterm
|
37
|
97.00
|
.99998
|
Preterm
|
Preterm
|
38
|
103.00
|
.99999
|
Preterm
|
Preterm
|
39
|
162.42
|
1.00000
|
Preterm
|
Preterm
|
40
|
185.80
|
1.00000
|
Preterm
|
Preterm
|
41
|
187.47
|
1.00000
|
Preterm
|
Preterm
|
Berdasarkan tabel di atas dengan cut off point kadar Feritin = 36,1 ng/ml
diperoleh nilai sensitivitas = 95,2% dan spesifisitas = 100,0% .
Tabel 4.8. Perhitungan sensitivitas dan spesifisitas berdasarkan cut off
point
Persalinan Preterm
|
Kehamilan Normal
|
|
>= 36,1(satuan)
|
20
(95,2%)
|
0 (0%)
|
<36,1 (satuan)
|
1
( 4,8%)
|
20 (100%)
|
Jumlah
|
21
|
20
|
BAB V
PEMBAHASAN
Prematuritas
masih merupakan salah satu penyebab utama kematian perinatal dengan segala
komplikasinya. Pada persalina prematur, bayi yang lahir dengan berat badan
lahir terlalu rendah sering menyebabkan kematian ( Penyebab utama kematian
neonatal ). Mekanisme terjadinya persalinan prematur dan faktor-faktor penyebab
langsung dari persalinan prematur sampai saat ini masih belum dapat diterangkan
secara jelas.2
Perbedaan kadar feritin antara
kehamilan preterm dan persalinan preterm, maka perlu dibuktikan dahulu bahwa
tidak terdapat perbedaan karakteristik yang bermakna antara kedua kelompok
tersebut. Pada penelitian ini, karakteristik subjek penelitian yang
dibandingkan terdiri dari umur, paritas, pendidikan, pekerjaan dan umur
kehamilan. Hal ini dikemukakan berdasarkan pemikiran bahwa umur, paritas, umur
kehamilan dan kadar hemoglobin akan mempengaruhi kejadian persalinan kurang
bulan, sehingga perlu dilakukan matcing
sejak awal penelitian.
Risiko persalinan kurang bulan lebih
tinggi pada wanita dibawah umur 16 tahun terutama secara riwayat ginekologis
juga muda ( remaja yang mendapat haid pertamanya < 2 tahun sebelum
kehamilannya ) akan meningkatkan kejadian persalinan prematur pada usia
kehamilan < 33 minggu.3 Dari tabel 4.1 kelompok wanita dengan
persalinan preterm usia terbanyak adalah <20, 25-29,30-34, rata-rata 5 kasus
(23,8%), usia termuda <20 tahun sebesar 5 kasus (23,8%).
Pada penelitian ini (tabel 4.2)
multipara lebih banyak mengalami persalinan preterm dibandingkan primipara, hal
ini menunjukan tidak ada perbedaan
jumlah paritas dengan
kejadian persalinan prematur, namun pada
paritas >10 ternyata pada persalinan prematur meningkat.3
Faktor
lain yang menambah risiko persalinan kurang bulan adalah kadar hemoglobin.
Risiko persalinan kurang bulan sekitar 60% pada kadar Hb kurang dari 9gr/dl.
Risiko persalinan preterm meningkat bila terdapat defisiensi besi saat awal
kehamilan. Kadar hemoglobin yang ideal untuk mencegah persalinan kurang bulan
adalah 9,5-11,5 gr/dL. Pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan antara
kadar Hb pada persalinan preterm dan kehamilan preterm.
Pada
grafik terlihat bahwa kadar feritin serum semakin tinggi maka semakin besar
juga risiko terjadi persalinan preterm. Weintraub,dkk (2003) mengadakan
penelitian observasional prospektif terhadap wanita dengan kehamilan tunggal
yang dirawat akibat persalinan prematur pada
trimester kedua, disimpulkan bahwa konsentrasi feritin ibu > 30 ng/ml
pada trimester kedua berfungsi sebagai penanda untuk kelahiran prematur.(22)
Selain di serum, feritin juga meningkat pada serviks, Ramsey, dkk (2002)
mengadakan penelitian pada 182 wanita dengan persalinan preterm, dan menyimpulkan bahwa, peningkatan servikal
feritin pada kehamilan 22-34 minggu, dapat memprediksi kejadian persalinan
preterm.(21)
Siddika A, dkk (2009) mengadakan penelitian hubungan
sebab akibat dari feritin serum dengan persalinan prematur. Penelitiannya
merupakan studi kasus kontrol pada 120
wanita dari juli 2005- juni 2007, 60
wanita hamil tunggal dengan persalinan prematur (28-36 minggu), sedangkan 60
wanita sebagai kontrol dengan kehamilan > 37 minggu, hasil penelitian
didapatkan Mean ±SD feritin serum kontrol dan prematur 37,01±26,84 g/l adalah
210,37±67,20 g/l perbedaan hasil antara keduanya sangat signifikan (<0,001).
Dalam diskusi kasus ini kemungkinan besar peningkatan serum feritin akibat
infeksi kelamin asimtomatik yang berhubungan dengan reaksi fase akut infeksi
subklinis. Dan dari penelitin ini disimpulkan
bahwa serum feritin dapat dianggap sebagai parameter klinis untuk
mendeteksi kejadian persalinan prematur. Dalam kasus-kasus dengan feritin serum
yang tinggi, dapat direkomendasikan pengobatan untuk mencegah persalinan
prematur.(7)
Pada
tabel 4.7. dapat dilihat hubungan yang menyatakan semakin tinggi kadar feritin
serum semakin besar peluang terjadinya persalinan preterm. Besarnya peluang
dapat dilihat pada tabel 4.7 dimana jika kadar feritin serum 12,50 ng/ml maka peluang terjadinya
persalinan preterm sebesar 16,3%, dan jika kadar feritin serum sebesar 55,20 ng/ml
maka peluang terjadinya persalinan preterm sebesar 96,6%.
Dari
tabel 4.8 dapat dianalisis hubungan kadar feritin serum dengan dua kategori
(kehamilan preterm normal dan persalinan preterm) dengan analisis regresi
logistik dan diperoleh cut off point kadar feritin serum = 36,1 ng/ml. Jika cut off point digunakan, maka akan
diperoleh nilai sensitifitas = 95,2% dan nilai spesifisitas=100%.
Goel
A, dkk (2003) dalam penelitiannya kadar feritin serum tidak berbeda dalam
setiap usia gestasi, namun pada kehamilan dengan resiko prematur kadar feritin > 40 mg/dl memiliki
sensitivitas dan spesivitas untuk memprediksi terjadinya kejadian persalinan
prematur.(8)
Pada Februari 2012, Movahendi M, dkk mengadakan
penelitan terbaru pada 222 wanita dengan membandingkan persalinan prematur
(<37 minggu) dengan persalinan aterm (>37 minggu) dan menghasilkan kadar
feritin meningkat pada persalinan preterm (26.7 ±
5.5 ng/mL dibanding dengan 19.8 ± 3.6 ng/mL, P<0.001), dengan sensitivity of 78.3%, specificity of 83.0%.(23)
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1.
Kesimpulan
1. Semakin
tinggi kadar feritin serum (> 36,1 ng/ml) semakin besar peluang terjadinya
persalinan preterm.
2. Hasil
analisis hubungan antara kadar feritin serum dan kejadian persalinan preterm
dengan dua kategori ( kehamilan preterm dan persalinan preterm) dengan analisis
regresi logistik diperoleh cut off point
kadar feritin serum = 36,1. Cut off point
ini memiliki nilai sensitivitas = 95,2% dan spesifisitas =100%.
6.2.
Saran
Kadar feritin serum
dapat dijadikan salah satu prediktor dini terhadap kejadian persalinan preterm,
karena itu pemeriksaan feritin dapat diusulkan dilakukan secara rutin dalam
pemeriksaan antenatal care dan pengelolaan ancaman persalinan prematur. Selain
pemeriksaan feritin serum mudah, harga pemeriksaan juga murah dibandingkan
dengan pemeriksaan progesteron,fibronektin,Tnf-α,Inter leukin dan prediktor
persalinan preterm lain yang jauh lebih mahal.
Perlu Penelitian selanjutnya dengan
sampel yang lebih banyak dan menggunakan metode kohort.
DAFTAR PUSTAKA
1. Cuningham
F, Leveno K, Bloom S et all. Preterm Birth. In Williams Obstetric. 22th ed.
McGraw-Hill. New York. 2005. Page :855-80
2. Charllis
J, Sloboda D, Alfaidy N, et all. Progstaglandin and mevhanisms of Preterm
Birth. Reproduction. 2002. 124. Page 1-7
3. Krisnadi
Sofie R, Effendi J.S, Pribadi A, Dalam Prematuritas. Subbagian Kedokteran
Fetomaternal bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran RS Dr Hasan Sadikin Bandung. 2009. Hal.1-90
4. Pennel
C, Jacobson B, Williams S, et all. Genetic Epidemiological Studies of Preterm
Birth : Guidelines for Research. Am J Obtet Gynecol. 2007. Page : 1-11
5. Rao
A, Cheng Y, Caughey A. Perinatal Complications among Different Asian-American
Subgroup. Am J Obstet Gynecol 194. 2006. Page : 38-41
6. Ramsey
PS, Tamura T, Robert L, Goldenberg MD, Mercer B, Iams JD, Meis, P, Moawad AH,
Das A, Dorsten, PV, Cartis SN, Thurnau G, Dombrowski MP, Miodovnik M, The Preterm Prediction Study: Elevated cervical ferritin
levels at 22 to 24 weeks of gestation are associated with spontaneous preterm
delivery in asymptomatic women. National
Institute of Child Health and Human Development Maternal-Fetal Medicine Units
Network. the Annual Society for
Gynecologic Investigation Meeting, March 19, 2000, Chicago, Ill.
7. Siddika
A, Nasrin B, Shamim S, Begum N, Nahar N, Begum SR. Serum Ferritin Level In
Preterm Labor. Bangladesh J Obstet Gynaecol, 2009; Vol. 24(1): 14-17
8. Goel
A, Jain V, Gupta I, Varma N, Serial Serum Ferritin Estimation in Pregnant Women
at Risk of Preterm Labor. Obstet Gincol Scand. 2003
9. Lao TT. Tam K.F.Chan L.Y. Third
Trimester iron Status and Pregnancy Outcome in Non Anemic Women : Pregnancy
Unfavourably affected by Maternal Iron Excess. Human Reproduvtion
Vol.15;No.8:2000
10. Gibson RS, Serum ferritin in Principles of
Nutritional Assesssment 2nd Ed. Oxford University, USA, 2005:p
461-70.
11. Wikipedia The free encyclopedia.Ferritin.
Wikimedia. 2012
12. Andrews NC Cornell University in
Basic Iron metabolism, New
Engl J Med. 341:1986-1995, Copyright © 1999 Massachusetts Medical
Society
13. Behrens P, Bauerlen E, Biomineralization of
iron oxide in mammalian ferritin in Handbook of Biomineralization biomimetic
and bioinspired chemistry. Wiley-VCH Veriag GmbH & Co.KGaA, Weinheim, 2007:p316-20
14. Jacobs A. wormwood M. Ferritin In Serum
Clinical And Biochemical Implications. The New England Journal of medicine.
Yale Medical library. Vol. 292. No.18 2010:951-6
15. Morrison JC. Anemia Associated with Pregnancy
In sciarra JJ (Ed) Gynecology and Obstetrrics. Vol.3. 2011.16:1-18.
16. Warouw NN, Wiriadinata S, Hubungan Serum
feritin Ibu hamil trimester ke Tiga dengan Berat Badan lahir Rendah. Bagian
Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Unsrat Manado. Dalam Cermin Dunia
Kedokteran No.146,2005;5-14.
17. Asif
N. Hassan K. Mahmud S. et al. Comparison of Serum Ferritin Level In Three
Trimesters of pregnancy and Their Correlation With Increasing Gravidity.
international Journal Of Pathology.2007
18. Singh
B, Goswami B, Gupta N, Bajaj AD, Mallika V. Potential Biochemical Markers For
Preterm Labor: A Pilot Study In North India. Ind J Clin Biochem (Jan-Mar
2011)26(1):41-45.
19. Menon R, Torloni MR, Voltoloni C, Torricelli M,
Marialdi M, Betra AP, Widmer M, Allen T, Davydova I, Khodjaeva Z, Thorsen P,
Kacerovsky, Tambor V, Massinen T, Nace J, Arora C, Biomarkers of Spontaneous Preterm Birth: An
Overview of The Literature in the Last Four Decades. In SGI/Society for Gynecologic
Investigation. 2011
20. Saha,
CK, Jaina V, Gupta I, Varma N, Serum ferritin level as a marker of preterm
labor. Department of Obstetrics and Gynecology, Postgraduate Institute of
Medical Education and Research, Chandigarh, India.
International Journal of Gynecology & Obstetrics 71 _2000.
21. Ramsey,
PS, Andrews WW, Goldenberg RL, Tamura T, Wenstrom KD, Johnston KE, Elevated amniotic fluid ferritin levels are
associated with inflammation-related pregnancy loss following mid-trimester
amniocentesis. The Journal of Maternal–Fetal and Neonatal Medicine
2002;11:302–306.
22. Waintraub
AY, Sheiner E, Mazor M, Amalialvy,Tevet
A, Paamoni O, Wiznitz A. Maternal serum
ferritin concentration in patients with preterm labor. The
Journal of Maternal-Fetal and Neonatal Medicine, September 2005; 18(3): 163–166.
23. Movahedi M, Saiedi M, Gharipour M,
Aghadavoudi O, Diagnostic
performance and discriminative value of the serum ferritin level for predicting
preterm labor, Isfahan University of Medical Sciences. Journal of Research in
Medical Sciences. 2012
24. Hermawan
H, Effendi JS, Anwar R, Hubungan antara Kadar Tnf-A Serum dan Feritin serum
pada kehamilan dan persalinan kurang bulan. Indonesian journal of Obstetrics
and Ginecology, Vol 35, Juli 2011, PIT XIX hal28.
25. Ahmedy
ZA, Ibrahim AM, Thaleb YM, Sherbeiny, MM. Serum Ferritin Level As A Marker Of
Preterm Labor. Faculty Of Medecine Ain Shams university. 2010.
26. Mikhail
G, The
Predictive Value of Maternal Serum ferritin level in Patients with Threatned
Preterm labor George Mikhail Mikhail.
Faculty of Medicine. Ain Shams University. 2008
27. Beard
JL, Murray-Kolb, Rosales FJ, Solomons NW, Angelill ML, in Interpretation of
serum ferritin concentrations as indicators of total-body iron stores in survey
populations: the role of biomarkers for the acute phase response1–4. Am J. Clin
2006.
28. Goodarzi
M, Bashardoost N, The study of the
relationship of serum ferritin and uterine contractions in pregnant women
referred to medical centers of Isfahan. Article of Isfahan University of
Medical Sciences. IJNMR/Fall 2009; Vol 14, No 4.
29. Wagey
FW, Sinolungan M, Luaran persalinan premature dr RSU Prof. DR. R.D. Kandou
Manado Tahun 2008. Bagian /SMF Obstetri Ginekologi FK Unsrat
30. Najoan
N.N, tendean H, Liem R.W. Kematian perinatal pada persalinan premature
pengamatan selama dua tahun di Rumah Sakit Umum Pusat Prof Dr. R.D. Kandou
Tahun 2009-2010. Indonesian journal of Obstetrics and Ginecology, Vol 35, Juli
2011, PIT XIX hal28.
31. Wantania,
J, Wilar R, Antolis Y, Mamangkey G, Faktor risiko kehamilan dan persalinan yang
berhubungan dengan kematian neonatal dini di RSU Prof RD kandou Manado. Buletin
Perinasia-XVII, no.3, edisi desember 2011.
32. Djikstra K, Kuczynski E, Lockwood C.
Pathogenesis and methods for the prediction of Spontaneus Preterm Birth. Prenat
Neonat Med. 2001. Page:12-44
33. Rahkonen
L, Preterm Delivery and Selected Bomarkers-phosphorylated Insulin-like Growth
Factor-Binding Protein-1 and Matrix metalloproteinase-8- in cervical Fluid.
University of Helsinki. 2010
34. Rompas
J, Pengelolaan Persalinan Prematur. Dalam Cermin Dunia Kedokteran no.145,Bagian
SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi RSUP
Manado. 2004
35. Romero R, Gomez R, Chaiworapongsa,
Canoscenti G, Kim JC, Kim YM, The Role of Infection in preterm labour and
delivery. Paediatric and Perinatal Epidemiology 2001,15,41-56.
36. Robert L, Goldenberg, MD, Hauth JC,
Andrews WW, Intrauterine Infection and Preterm delivery. In New Engl J Med
2000; 342:1500-1507
37. Romero R, Chaiworapongsa T, Preterm labor,
Intrauterine infection and fetal inflammatory response syndrome. American
Academy of Pediatrics, Neoreviews vol.3.2002.p73-85.
Lampiran
1 : Lembar Persetujuan
SURAT
PERSETUJUAN PENELITIAN
(Informed Consent)
Saya yang bernama
dibawah ini:
Nama :
Umur :
Alamat :
Telah mengerti dan
menerima penjelasan dokter tentang penelitian:
“
Hubungan Kadar Feritin Serum pada Persalinan Preterm”
Dengan kesadaran dan
kerelaan sendiri, saya bersedia menjadi peserta penelitian tersebut.
Manado,
………………….2012
Peserta
Penelitian Peneliti
(________________________) (dr. Sitti N. Korompot)
Lampiran
2 : Status Penelitian
DATA
PESERTA PENELITIAN
Tempat penelitian : RSU Prof. R.D. Kandou Manado/RSU RW.
Monginsidi Manado
Tanggal :
I.
DATA
PESERTA PENELITIAN
1. Nama
pasien : Nama
Suami :
2. No.
CM :
3. Alamat :
4. Umur :
5. Pekerjaan :
6. Pendidikan :
7. Nomor
Telp :
II.
ANAMNESA
1. Riwayat
obstetri : G P A
Tahun Jenis Persalinan Letak Anak BBL
Lhr hidup/mati Oleh
2. ANC :
3. HPHT :
4. Rwayat
Keputihan :
III.
PEMERIKSAAN
FISIK
1. Berat
Badan : kg Tinggi
Badan : cm
2. Tekanan
darah : mmHg N: x/m R: x/m
Suhu badan :
Pemeriksaan
Dalam :
Diagnosis :
IV.
HASIL
LABORATORIUM
HB :
Leukosit :
Trobosit :
Hematokrit :
V.
HASIL
PENELITIAN
KADAR FERITIN SERUM :
Lampiran
3 : Hasil Pengelolaan data
HASIL
PENGOLAHAN DATA
DENGAN
PROGRAM IBM SPSS STATISTICS 20
T-Test
Group Statistics
|
||||
Persalianan
|
N
|
Mean
|
Std. Deviation
|
|
Umur
|
Normal
|
20
|
29.60
|
7.598
|
Preterm
|
21
|
26.29
|
7.163
|
|
T-Test
Group Statistics
|
||||
Persalianan
|
N
|
Mean
|
Std. Deviation
|
|
Hb
|
Normal
|
20
|
11.1300
|
.87425
|
Preterm
|
21
|
11.0810
|
.84358
|
|
Logistic Regression
Dependent Variable
Encoding
|
|
Original Value
|
Internal Value
|
Normal
|
0
|
Preterm
|
1
|
Block 1: Method = Enter
Omnibus Tests of
Model Coefficients
|
||||
Chi-square
|
df
|
Sig.
|
||
Step 1
|
Step
|
39.807
|
1
|
.000
|
Block
|
39.807
|
1
|
.000
|
|
Model
|
39.807
|
1
|
.000
|
|
Model Summary
|
|||
Step
|
-2 Log likelihood
|
Cox & Snell R Square
|
Nagelkerke R Square
|
1
|
17.007a
|
.621
|
.829
|
a. Estimation terminated at iteration number 8 because parameter
estimates changed by less than .001.
|
|||
Classification Tablea
|
|||||
Observed
|
Predicted
|
||||
kehamilan
|
Percentage Correct
|
||||
Normal
|
Preterm
|
||||
Step 1
|
Normal
|
20
|
0
|
100.0
|
|
Preterm
|
1
|
20
|
95.2
|
||
Overall Percentage
|
97.6
|
||||
a. The cut value is .500
|
|||||
Variables in the
Equation
|
|||||||
B
|
S.E.
|
Wald
|
df
|
Sig.
|
Exp(B)
|
||
Step 1a
|
Feritin
|
.174
|
.053
|
10.680
|
1
|
.001
|
1.191
|
Constant
|
-6.280
|
1.824
|
11.855
|
1
|
.001
|
.002
|
|
a. Variable(s) entered on step 1: Feritin.
|
|||||||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar