ASPEK SOSIAL PADA KASUS BEKAS SEKSIO SESAREA DENGAN
INPARTU KALA II LAMA YANG DILAKUKAN EKSTRAKSI VAKUM
Dalam kesehatan
reproduksi, kita mengenal, berbagai bentuk atau model pelayanan, diantaranya
yang disebut Maternity care, yang
terdiri dari ante/prenatal care,
intrapartum care dan postpartum care, Ciri dari model ini adalah sifatnya
yang pasif, yaitu sasaran ibu hamil dengan cara pendekatan murni klinis. Namun
setelah disadari bahwa proses reproduksi bukan hanya masalah biomedis ( klinik
) saja, tetapi juga berkaitan dengan masalah sosioekonomi. 1
Kematian
dan kesakitan pada ibu hamil dan bersalin serta bayi baru lahir sejak lama
telah menjadi masalah, khususnya dinegara berkembag. Indonesia
telah mencanangkan Making Pregnancy Safer
( MPS ) sebagi strategi pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010, sebagai
bagian dari Safe Motherhood. Dalam arti luas, tujuan Safe Motherhood dan Making
Pregnancy Safer sama, yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia
dengan mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan
dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. 1
Pemanjangan
waktu persalinan atau disebut prolonged
labor dapat menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan kematian maternal
dan perinatal terutama dinegara berkembang, Neilson JP dkk menyebutkan
prolonged labor terjadi jika persalinan lebih dari 20 jam sedangkan WHO
menyebutkan prolonged labor jika
persalinan terjadi dalam 18 jam dalam permulaan nyeri yang mulai teratur. 2,3
Pada
partus lama penyebabnya adalah multikompleks yang berhubungan dengan
penatalaksanaan pertolongan persalinan yang tidak adekuat, disebabkan oleh
ketidaktahuan, ketidaksabaran, keterlambatan menyadari bahaya persalinan dan
mengambil keputusan merujuk, terlambat mencapai fasilitas rujukan, serta
kondisi geografi dan sulitnya transportasi dan terlambat memperoleh fasilitas
rujukan yang adekuat. 3,4
Pada
tahun 1990 13-26% Rumah sakit di Amerika serikat mencoba persalinan pervaginam
setelah seksio sesare (VBAC), dan hanya 10% wanita yang dapat dipilih untuk
mencoba VBAC. Menurut American pregnancy association dari 90% wanita yang
mengalami Seksio sesarea, 60-80% sukses dengan persalinan pervaginam pada
persalinan berikutnya. The American
College of Obstetrics and
Gynecolog, mengeluarkan
petunjuk, VBAC merupakan persalinan resiko tinggi sehingga harus tersedianya
ahli kandungan, ahli anastesi dan ruang operasi yang siap pakai. 5,6
Kelahiran
spontan pasca kelahiran cesar (VBAC) ditunding berperan besar pada kasus ruptur
uteri. 7,8,9,10 Resiko rupture uteri pada VBAC adalah 0,2%-1,5%.5
Ekstraksi
vakum adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi
tekanan negatif melalui suatu cup pada kepala janin sehingga terbentuk caput
buatan. Alat ini dinamakan ekstraktor vakum atau ventouse. Indikasi dilakukannya ekstraksi vakum ada
tiga, yaitu indikasi ibu, indikasi janin dan indikasi waktu.11
Dalam
laporan kasus ini, akan dibahas tentang aspek sosial pada kasus bekas seksio
cesarea dengan inpartu kala II lama dilakukan ekstraksi vakum.
L A P O R A N K A S U S
IDENTITAS
Nama :
Ny. JB
Umur :
26 tahun
Alamat :
Kombos Lingkungan I
Tempat
Lahir : Manado
Bangsa : Indonesia
Agama : Kr. Protestan
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Nama
Suami : Tn. FH
Umur
Suami : 26 tahun
Alamat
Suami : Kombos Lingkungan I
Pendidikan
Suami : SMK
Pekerjaan
Suami : Buruh
ANAMESIS UTAMA
Penderita
MRS tanggal 2 Februari 2010 0400
Wita.
Keluhan
Utama : Dikirim Oleh bidan dengan diagnosa G2P1A0,26 Tahun His kencang, Jam
02.00 Wita mengejan kepala tidak maju-maju, anak pertama seksio cesarean,
palpasi 2 jari bawah pusat, kepala punggung kanan, BJA (+), Pelepasan darah
(+).
Riwayat
penyakit sekarang :
4 Penderita sudah dipimpin mengedan oleh
bidan sejak jam 00.00 wita.
4 Nyeri perut bagian bawah dirasakan sejak
jam 12.00 wita.
4
Pelepasan lendir campur darah (+)
4 Pelepasan air dari jalan lahir (+) sejak
jam 22.00 wita
4 Pergerakan janin masih dirasakan saat MRS.
4
Riwayat penyakit dahulu:
§
Penyakit Jantung
§
Penyakit Hipertensi
§
Penyakit Paru-paru disangkal penderita
§
Penyakit Hati
§
Penyakit Ginjal
§
Penyakit Kencing Manis
4
BAB dan BAK biasa
ANAMESIS KEBIDANAN
- Riwayat kehamilan sekarang:
4
Muntah (-)
4
Bengkak (-)
4
Penglihatan terganggu (-)
4
Sakit Kepala (-)
4
Kencing terlalu sering (-)
4
Defekasi tidak teratur (-)
4
Perdarahan (-)
4
Keluar darah (-)
4
Kejang (-)
4
Waktu hamil tidak merokok dan minum alkohol
- Pemeriksaan Ante Natal (PAN):
4
Pemeriksaan Ante Natal dilakukan secara teratur
4
PAN pertama umur kehamilan 10 minggu
4
PAN terakhir tanggal 1 Februari 2010
4 Jumlah PAN selama kehamilan 9 kali Di
Puskesmas
4
Haid (menarche) 12 tahun, siklus haid teratur,
lamanya haid 6 hari
4
Hari pertama haid terakhir (HPHT) 21 April 2009
4
Taksiran tanggal partus 28 Januari 2010
- Riwayat Keluarga:
4 Perkawinan satu kali, dengan suami
sekarang 5 tahun, jumlah anak yang diinginkan lagi satu orang, sekarang anak 1
orang.
- Keluarga Berencana:
4
Riwayat ikut KB dengan cara menggunakan KB
suntik.
- Riwayat kehamilan terdahulu:
4
P1 : Tahun 2005, Cukup bulan, SC a.i. Plasenta previa di RSUP Prof Kandou
lahir bayi perempuan BBL 2600gr, hidup.
PEMERIKSAAN KEBIDANAN I
:
Tanggal
02 Februari 2010, jam 0400 Wita.
:
Status Praesens:
4
KU :
cukup
4
Kesadaran :
CM
4
Tekana darah :
120/ 70 mmHg
4
Nadi :
88 X / menit
4
Respirasi :
24 X / menit
4
Suhu badan :
36,80 C
4
BB :51
kg
4
TB :
146 CM
4
Mata :
conj. anemis -/ - , sclera ikterik -/ -
4
Jantung :
SI - II normal, bising (-)
4
Paru-paru :
rh -/ - , wh -/ -
4
Anggota gerak :
edema (-), varices (-)
:
Pemeriksaan Obstetrik:
4
Pemeriksaan Luar:
§
TFU :
30 CM
§
Letak janin : letak kepala U puka
§
BJA :
(+), 13 – 12 – 12
§
His :
2-3’//45-50’
§ Taksiran berat badan anak (TBBA): 2600 gr
4
Pemeriksaan Dalam:
§
Pembukaan lengkap, ketuban (-) sisa slight
meconeum, pp kepala HIII terdapat kaput ukuran 3x4 cm.
4
Pemeriksaan Laboratorium:
§
Darah :
ú
HB :
12,6 gr%
ú
Lekosit :
16.500/ mm3
ú
Trombosit :
282.000/ mm3
PEMERIKSAAN KEBIDANAN II
:
Kesimpulan Sementara:
G2P1A0,
26 tahun, hamil 40-41 minggu Inpartu kala II lama + Bekas SC
:
Sikap:
4
Seksio Cesarea cito
4
Konseling
4
Sedia donor setuju operasi
4
Lapor Konsulen→ Sc cito
Observasi
4
Jam :
0400 Wita.
Kes : CM, T 120/ 70 mmHg
, N 88X/ menit, R 22 X/ menit.
His : 2-3’//45-50”
BJA
: (+), 13 – 12 – 13
PD :
Pembukaan lengkap, ketuban (-) sisa slight meconeum, pp kepala HIII, terdapat kaput ukuran 3x4 cm
Dx :
G2P1A0, 26 tahun, hamil 40-41 minggu Inpartu
kala II lama + Bekas SC
Sikap:
4 Seksio Cesarea cito
4 Konseling
4 Sedia donor setuju operasi
4 Lapor Konsulen→advis Sc cito
: Jam :
0400 – 0430 Wita., His: 2-3//45-50, BJA: 12 – 13 – 12
: Jam :
0430 – 0500 Wita., His: 2-3//45-50, BJA: 13 – 13 – 12
4 Jam :
0500 Wita. Ibu ingin mengedan.
His :
2’-3’ 50”-55” ,BJA 13-13-12.
PD :
Pembukaan lengkap, ketuban (-) sisa slight meconeum, pp kepala HIII+, kaput (+) ukuran 3x4 cm
Dx : G2P1A0,
26 tahun, hamil 40-41 minggu Inpartu kala II lama + Bekas SC
Sx : Ekstraksi Vakum.
Informed Consent.
4 Jam 0531 Wita : Ekstraksi vakum
dimulai.
4
Jam 0545 Wita : Lahir perempuan, BBL
2600 gr, PB 46 cm, AS 5-7
4
Jam 0550 Wita : Lahir plasenta
lengkap dengan selaputnya, BPL 500 gr.
Keadaan ibu 2 jam post partum :
T 120/ 80 mmHg , N 80 X/ menit, R 24 X/ menit.
Perdarahan : - Kala III : 250 cc
Total : 350 cc
Penderita ditidurkan dalam posisi
litotomi, vulva dan sekitarnya diantisepsis dengan betadin, bokong ibu dialas
dengan doek steril. Diambil cup nomor 5.
Cup dipasang miring kedalam vagina
kemudian setelah mengenai kepala bayi, cup dipasang tepat pada UUK. Setelah cup
terpasang, tekanan didalam cup diturunkan secara bertahap mulai dari -0,2 mmHg
selama 2 menit, 0,4 mmHg selama 2 menit dan 0,6 mmHg selama 5 menit. Sementara
itu dilakukan pemeriksaan apakah ada jaringan vagina yang terjepit diantara
kepala anak dan cup. Ternyata tidak ada jaringan terjepit. Dilakukan episiotomi
mediolateral.
Dilakukan traksi supaya kepala turun
(sampai setinggi HIV). Setelah batas rambut kepala berada dibawah
simfisis, arah tarikan ke perut ibu. Sementara itu perineum disokong, sehingga
lahirlah berturut-turut dahi, mata, hidung, mulut dan dagu. Setelah kepala bayi
lahir, tekanan pada cup dinaikan secara perlahan-lahan sehingga cup terlepas.
Dengan tarikan dari kepala, bayi dapat dilahirkan.
Jam 0545 lahir bayi
perempuan dengan ekstraksi vakum BBL 2600 gr, PBL 46 cm, AS 5-7. Sementara
jalan napas dibersihkan dengan penghisap lendir, tali pusat dijepit dengan
cunam kocher ± 1 cm dari umbilikus, kemudian tali pusat diurut kearah ibu dan
dijepit dengan cunam kocher II ± 3 cm dari cunam kocher I, sementara tangan kiri
penolong melindungi bayi, tali pusat digunting diantara kedua cunam kocher
tersebut. Bayi diserahkan kepada bidan untuk perawatan selanjutnya.
Dibawah bokong ibu diletakan
stickpan, vulva dan sekitarnya diantisepsis dengan kapas Lysol kemudian
dilakukan pengosongan kandung kencing dengan kateter kemudian penderita
diistirahatkan sementara menunggu lepasnya plasenta.
Setelah 5 menit, dilakukan peregangan
tali pusat terkendali untuk mengetahui apakah plasenta sudah terlepas dari
cavum uteri.
Jam 0550 lahirlah
plasenta lengkap dengan selaputnya. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan jalan
lahir, tampak luka episiotomi rupture perineum grade II, dilakukan hecting,
bagian dalam jelujur, bagian luar simpul IV. Ibu dibersihkan dan
diistirahatkan. Dalam 2 jam post partum :
T
120/ 80 mmHg , N 88 X/ menit, R 24 X/ menit. Kontraksi uterus baik.
Perdarahan : - Kala III : 250 cc
Total : 350 cc
FOLLOW UP PENDERITA
4
Tanggal :
03 Februari 2010
Keluhan (-), Kesadaran : CM, KU : cukup
T 110/ 70 mmHg ,
N 84 X/ menit, R 20 X/ menit.
Conj.
anemis -/ -
c/ p dalam batas normal, Laktasi (+).
TFU
1 jbpst, kontraksi uterus baik.
Dx: P2A0, 26 tahun post EV,
hari I, atas indikasi kala II lama + Bekas Seksio Cesarea.
Lahir bayi perempuan BBL 2600 gr, PBL 46 cm, AS 5-7
Sikap:
4
ASI on demand
4
Konseling KB
4
Cefadroksil3 x 1
4
SF 1x1
4
Tanggal :
04 Februari 2010
Keluhan (-), Kesadaran : CM, KU : cukup
T
110/ 70 mmHg , N 84 X/ menit, R 20 X/ menit.
Conj. anemis -/ -
c/ p dalam
batas normal, Laktasi (+).
TFU
2 jbpst, kontraksi uterus baik.
Lochea : rubra
Perineum : hecting baik
Diagnosis
:
P2A0,
26 tahun post EV, hari II, atas indikasi kala II lama + Bekas Seksio Cesarea.
Lahir
bayi perempuan BBL 2600 gr, PBL 46 cm, AS 5-7
Sikap:
4
ASI on demand
4 Konseling KB→ Rencana KB suntik
4
Cefadroksil3 x 1
4
SF 1x1
4
Rawat perineum
4
Tanggal :
05 Februari 2010
Keluhan (-), Kesadaran : CM, KU : cukup
T
110/ 70 mmHg , N 84 X/ menit, R 20 X/ menit.
Conj. anemis -/ -
c/
p dalam batas normal, Laktasi
(+).
TFU
2 jbpst, kontraksi uterus baik.
Lochea : rubra
Perineum : hecting baik
Diagnosis :
P2A0, 26 tahun post EV, hari III, atas indikasi kala
II lama + Bekas Seksio Cesarea.
Lahir
bayi perempuan BBL 2600 gr, PBL 46 cm, AS 5-7
Sikap:
4
ASI on demand
4 Konseling KB→ KB suntik
4
Cefadroksil3 x 1
4
SF 1x1
4
Rawat jalan
KUNJUNGAN RUMAH ( 20 Februari 2010)
Penderita bersama suaminya,
tinggal dirumah milik orang tuanya. Rumah terletak di kelurahan Kombos
lingkungan I, Rumah terletak disebuah lorong sempit, sekitar 300 m dari jalan
raya, rumah berukuran ± 8x 8 m dinding beton lantai beton, memiliki 1 ruang
tamu, 2 kamar tidur, dan 1 wc, suami penderita bekerja sebagi buruh bangunan
yang penghasilannya tidak tetap. Anak pertama penderita sudah berusia 4 tahun,
tapi belum bisa berjalan dan berbicara, menurut dokter anak, anak pertamanya
memang mengalami cacat, tapi pasien tidak tau apa penyakit anaknya, saat
dioperasi tahun 2005, pasien mengalami pendarahan yang hebat, dan merasa hampir
meninggal sehingga penderita trauma untuk dioperasi lagi. Saat persalinan anak
pertama penderita sakit sehingga penderita tidak mau melahirkan di RS karena
mengingat persalinan di RS harus menginap, sedangkan anak pertama dalam keadaan
sakit.
Saat
kunjungan, anak ke-2 penderita sehat, belum pernah sakit.
Anamnesis ulang, saat persalinan,
penderita mulai merasa sakit perut jam 12 siang, kemudian jam 18.00 segera ke
praktek bidan terdekat, tapi bidan menolak menangani penderita, tapi penderita
memaksa, karena pasien hanya memiliki uang Rp.500.000. Pukul 22.00 pasien
pecah ketuban, dilakukan Pemeriksaan dalam oleh bidan dan dianjurkan jangan
mengedan. Saat pukul 00.00 pasien
merasa ingin mengejan. Di Periksa dalam oleh bidan, dan di suruh mengedan, tapi
bidan tidak memimpin persalinan tersebut hanya membiarkan pebderita, karena
menurut penderita, bidan sudah tidak mau menangani, dan mengatakan jangan
melahirkan disini, tapi pasien menolak. Pukul 03.00 pasien akhirnya minta
kepada keluarganya untuk dirujuk karena bidan tidak mau menyentuhnya ( tidak mau
melakukan pemeriksaan dalam ) lagi dan pasien merasa kelelahan, sehingga pasien
takut dan minta dirujuk.
KUNJUNGAN RUMAH BIDAN ( 20 Februari 2010)
Rumah bidan terletak juga di
kelurahan Kombos, ± 350 m dari rumah penderita. Bidan KB sudah pensiun sejak
tahun lalu dan sudah membuka klinik bersalin sejak 10 th yang lalu, Bidan KB
lulusan Akademi kebidanan DI dan pensiun PNS saat umur 55 tahun. Terakhir tugas
di puskesmas Kombos. Bidan KB, mengerti akan kehamilan resiko tinggi pada
kehamilan bekas SC dia sudah menolak menangani penderita, tapi, penderita
memaksa, bidan KB mengetahui jika persalinan bekas SC karena indikasi tidak
tetap ( plasenta previa) bisa lahir pervaginam, tapi bidan KB takut menangani
bekas SC jadi, setiap kasus bekas SC dia selalu merujuk. Hanya pasien ini tetap
menolak dirujuk. Karena pasien menolak dirujuk, bidan KB menyuruhnya berbaring
di bed, dan melarangnya mengedan, saat pukul 00.00 wita bidan KB melakukan
pemeriksaan dalam dan merasa pembukaan sudah lengkap, sehingga dia menganjurkan
lagi untuk kerumah sakit, tapi pasien menolak, sehingga dia membiarkan pasien
mengejan sendiri, dia tidak mau memimpin persalinan tersebut. Saat pukul 03.00
dini hari pasien minta dirujuk.
D I S K U S I
Yang akan dibahas pada kasus ini adalah :
- Kesalahan penanganan pada kasus ini
- Keadaan sosial ekonomi sebagai penyulit
Kesalahan penanganan pada kasus ini
Pada
kasus ini, ditemukan kesalahan penangan, baik dari segi faktor resiko pada
pasien ini, maupun keterlambatan penanganan.
Berdasarkan kepustakaan, keterlambatan dikenal
dengan istilah 4 terlambat, yaitu terlambat mengenal secara dini tanda bahaya/
masalah / faktor resiko, Terlambat mengambil keputusan, terlambat dalam
transportasi, dan terlambat mendapat pertolongan ditempat rujukan.
- Terlambat mengenal secara dini faktor resiko
Penderita
melakukan pengawasan antenatal sebanyak 9 kali dipuskesmas. Sebenarnya hal
tersebut sudah lebih dari cukup. Namun yang menjadi masalah, yaitu petugas
kesehatan tidak memberikan konseling yang baik tentang resiko tinggi pada
pasien ini.
Dari segi
medis, pasien ini adalah bekas seksio cesarea. Sebaiknya pada pengawasan
antenatal sudah dianjurkan PAN di Rumah sakit, untuk persiapan persalinan di
rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap. 5,6 Saat pesalinan, pasien ketempat prakek bidan,
untuk meminta pertolongan, bidan menganjurkan agar penderita melahirkan di
Rumah sakit. Tapi penderita menolak. Pada penderita bekas Seksio konseling
harus dilakukan dengan baik, beri pengertian pada pasien bahwa dia tidak bisa
melahirkan di tempat tersebut.
- Terlambat Mengambil Keputusan
Pada pasien
ini terjadi keterlambatan dalam mengambil keputusan. Karena dari data yang
diperoleh, kira-kira pukul 18.00, Bidan KB sudah menganjurkan pasien untuk ke
Rumah Sakit, tapi penderita menolak. Kemudian pasien di tempatkan di tempat
tidur. Pukul 00.00 pasien sudah merasakan his yang kuat, kemudain bidan KB
melakukan pemeriksaan dalam dan menganjurka pasien untuk ke RS tapi pasien
menolak. Akhirnya pasien disuruh mengejan sendiri oleh bidan KB tanpa dipimpin.
Pukul 03.00 bayi belum juga lahir, karena sudah sangat kelelahan, pasien
akhirnya meminta dirujuk ke rumah sakit.
Sebenarnya saat pasien datang, bidan KB
harus segera menolak secara tegas membantu persalinan pasien ini, agar tidak
terjadi keterlambatan penanganan pada kasus ini. Karena pada persalinan bekas
Seksio, ibu hanya diberi kesempatan mengedan selama 2x 15’ agar tidak terjadi
ruptura uteri. 5,6 Pada saat tiba di RS Prof. Kandou, persalinan ini
segera di sikapi dengan seksio cesarea karena letak kepala masih di hodge III,
tapi dalam persiapan operasi kepala maju ke Hodge III+ sehingga diputuskan
untuk mempercepat kala II dengan ekstraksi vacum.
Menurut bidan KB, dia mengetahui
bahaya-bahaya persalinan bekas SC, dia juga sudah mencoba menyarankan penderita
agar segera kerumah sakit tapi pasien menolak karena uang ditangan hanya Rp.
500.000, pasien mengeluh tidak sanggup jika
biaya operasi seandainya di operasi.
Berdasarkan Kepustakaan, pada kasus-kasus
rujukan telambat, terjadi kesulitan lain, seperti : 1
Kesulitan untuk mengambil keputusan karena
kejadian mendadak serta faktor sosioekonomibudaya yang tidak mendukung.
Agar semua lancar, dibutuhkan beberapa hal
yang disingkat dengan BAKSOKU, yaitu :
v B idan, sebagai pengantar
Pada kasus ini, saat penderita
dirujuk dari bidan, tidak disertai dengan bidan tersebut. Hanya dengan surat
pengantar.
v A lat transportasi
Dalam hal ini karena kelurahan
kombos berada ditengah kota Manado, sehingga tidak ada halangan dalam hal
transportasi.
v K eluarga
Pada kasus ini pasien diantar
oleh ibu, bapak, suami dan saudara-saudaranya.
v S urat rujukan Gakin
Pasien adalah pasien yang
tergolong tidak mampu, ini saat masuk hanya membawa surat gakin lama yang sudah tidak berlaku, hal ini juga merupakan
salah satu yang menyebabkan pasien menolak ke rumah sakit, karena tidak ada
kartu Jamkesmas, hanya surat GAKIN lama yang masih berlaku saat Seksio sesarea anak
pertama.
v Obat
Pada saat dirujuk dari bidan
KB, pasien belum terpasang infus.
v K endaraan khusus.
v U ang
Pada kasus ini, penderita
hanya mempunyai uang Rp.500.000 sehingga pasien tidak mau melahirkan di rumah
sakit.
Perlu
tindakan stabilisasi untuk memperbaiki keadaan umum, pada saat sampai di RS
Prof. RD Kandou, pasien mengalami rasa takut, dan dengan adanya his yang
adekuat, sehingga dilakukan pemasangan Infus dan pemberian O2 untuk mencegah
gawat janin, dan segera dilakukan persiapan Seksio cesarea cito. Saat persiapan
Seksio, ibu ingin mengedan dan saat
pemeriksaan dalam, syarat ekstraksi vakum terpenuhi sehingga dilakukan
ekstraksi vakum.
Ibu
memerlukan rawat inap dirumah sakit, dan hari II post partum, berusah mengurus
pengalihan surat GAKIN ke Jamkesmas, sehingga saat pulang ibu tidak terlalu
memerlukan biaya yang banyak.
Keadaan Sosioekonomi sebagai Penyulit
Karena latar belakang pendidikan
yang rendah, penderita kurang menyadari bahwa kehamilannya saat ini merupakan
kehamilan resiko tinggi. Padahal pasien menjalani Pemeriksaan antenatal di
pusat kesehatan masyarakat, kurangnya konseling pada pasien ini juga
mempengaruhi, yaitu konseling saat penderita selesai peralinan pertama,
kehamilan ini dan saat pnghadapi persalinan ini.
Masalah yang juga dihadapi
pasien ini adalah sosial ekonomi yang sulit sehingga pasien menolak persalinan
dirumah sakit. Pasien tidak memiliki simpanan uang yang cukup untuk persalinan
dirumah sakit, pasien sudah diinformasikan oleh petugas puskesmas bahwa kartu
GAKINnya sudah tidak bisa digunakan untuk persalinan ini, sehingga pasien
berpikir tidak mau melakukan persalinan di rumah sakit, padahal saat dirawat di
ruang nifas, pasien disarankan oleh perawat agar memperbaharui kartu gakinnya
menjadi jamkesmas. Agar supaya pasien tidak membayar terlalu banyak. Kesalahan informasi dari perawat
di Puskesmas, juga menjadi faktor masyarakat miskin dalam menyikapi kehamilan
mereka. Pasien pulang setelah mengurus surat jamkesmas dan tidak memerlukan
biaya yang besar.
K E S I M P U L A N
4 Pada kasus ini terjadi kesalahan
penanganan pada saat persalinan, karena pembukaan lengkap pasien tidak mau
dirujuk kerumah sakit.
4 Ketelambatan merujuk pasien ini
dipengaruhi oleh faktor sosioekonomi.
4 Penanganan pada pasien ini sudah tepat
dimana setelah dilakukan pencegahan terjadinya gawat janin, disikapi dengan
seksio sesarea, dan saat kepala sudah di hodge III+ dilakukan ekstraksi vakum.
S A R A N
4
Perlu penyuluhan dan refreshing bagi tenaga
kesehatan dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan memberikan informasi kepada
tenaga kesehatan agar dapat mewaspadai kehamilan resiko tinggi sehingga dapat
melakukan penaganan yang tepat sejak pemeriksaan antenatal sampai pada
persalinan.
4
Perlu dilakukan konfirmasi yang baik antara
pasien, keluarga dan petugas kesehatan agar tidak terjadi keterlambatan dan
penanganan.
D A F T A R P U S T A K A
1. Rochjati P. Sistem rujukan dalam
Pelayanan Kesehatan Reproduksi, dalam : Bunga Rampai Obstetri dan Ginekologi
Sosial. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. JAKARTA, Hal : 259-75
2. Hasdiana Hasan, Partus lama dan
terlantar dalam Ilmu Kedokteran Fetomaternal edisi perdana, Himpunan kedokteran
fetomaternal, POGI Surabaya, 2004, 905-8
3.
Mukherji Joydev, Prolonged labor and Obstructed labor
in Essential of Obstetrics editors Sabratman Arullkumaran et all, first edition
: Jaypee Brothers Medical Publisher, New Delhi 2004, 345-50
4.
Dudley J Donald, Prolonged Latent Phase and Prolonged
second stage in Complication of Labor. Danfoth’s Obstetrics and Gynecology 8th
edition. Lippincott Williams and Wilkins, 1999, 428-30
5.
Wikipedia the free encyclopedia. Vaginal birth after
caesarean in Wikimedia. Available on http://en.wikipedia.org.wiki/
6.
Handaya, Partus pervaginam setelah seksio sesare dalam
Ilmu Kedokteran Fetomaternal edisi perdana, Himpunan kedokteran fetomaternal,
POGI Surabaya, 2004, 909-10
7. Health
& Pregnancy. What is the vaginal birth after caesarean (VBAC)? Available on
http://www.webmd.com/baby/guide/vaginal-birth-after-cesarean-vbac-overview
8. Nicette
Jukelevics, VBAC. Available on http://www.vbac.com/
9.
Nyol-Grey, Persalinana Pervaginam pada Riwayat Operasi
Cesar. Available on http://dr.Nyol.info.com//
10. Cunningham
FG, Leveno KJ etc, Prior Cesarean Delivery: Introduction in William Obstetrics.
Copyright ©2007 The McGraw-Hill
Companies. All rights reserved.
11. Sutoto
dan Herman K. Ekstraksi Vakum. Dalam: Ilmu Fantom Bedah Obstetri edisi 1999, Semarang, Badan Penerbit
Universitas Diponegoro, 1999: 41-45.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar