Sabtu, 16 Februari 2013

Sebuah laporan Kasus oleh Sitti Korompot,dr, Pembimbing : dr Max Rarung SpOG-Konsltan Onkologi



ASPEK SOSIAL PADA KASUS BEKAS SEKSIO SESAREA DENGAN INPARTU KALA II LAMA YANG DILAKUKAN EKSTRAKSI VAKUM

          Dalam kesehatan reproduksi, kita mengenal, berbagai bentuk atau model pelayanan, diantaranya yang disebut Maternity care, yang terdiri dari ante/prenatal care, intrapartum care dan postpartum care, Ciri dari model ini adalah sifatnya yang pasif, yaitu sasaran ibu hamil dengan cara pendekatan murni klinis. Namun setelah disadari bahwa proses reproduksi bukan hanya masalah biomedis ( klinik ) saja, tetapi juga berkaitan dengan masalah sosioekonomi. 1
Kematian dan kesakitan pada ibu hamil dan bersalin serta bayi baru lahir sejak lama telah menjadi masalah, khususnya dinegara berkembag. Indonesia telah mencanangkan Making Pregnancy Safer ( MPS ) sebagi strategi pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010, sebagai bagian dari Safe Motherhood. Dalam arti luas, tujuan Safe Motherhood dan Making Pregnancy Safer sama, yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. 1
Pemanjangan waktu persalinan atau disebut prolonged labor dapat menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan kematian maternal dan perinatal terutama dinegara berkembang, Neilson JP dkk menyebutkan prolonged labor terjadi jika persalinan lebih dari 20 jam sedangkan WHO menyebutkan prolonged labor jika persalinan terjadi dalam 18 jam dalam permulaan nyeri yang mulai teratur. 2,3
Pada partus lama penyebabnya adalah multikompleks yang berhubungan dengan penatalaksanaan pertolongan persalinan yang tidak adekuat, disebabkan oleh ketidaktahuan, ketidaksabaran, keterlambatan menyadari bahaya persalinan dan mengambil keputusan merujuk, terlambat mencapai fasilitas rujukan, serta kondisi geografi dan sulitnya transportasi dan terlambat memperoleh fasilitas rujukan yang adekuat. 3,4
Pada tahun 1990 13-26% Rumah sakit di Amerika serikat mencoba persalinan pervaginam setelah seksio sesare (VBAC), dan hanya 10% wanita yang dapat dipilih untuk mencoba VBAC. Menurut American pregnancy association dari 90% wanita yang mengalami Seksio sesarea, 60-80% sukses dengan persalinan pervaginam pada persalinan berikutnya. The American College of Obstetrics and Gynecolog, mengeluarkan petunjuk, VBAC merupakan persalinan resiko tinggi sehingga harus tersedianya ahli kandungan, ahli anastesi dan ruang operasi yang siap pakai. 5,6

Kelahiran spontan pasca kelahiran cesar (VBAC) ditunding berperan besar pada kasus ruptur uteri. 7,8,9,10 Resiko rupture uteri pada VBAC adalah 0,2%-1,5%.5          
Ekstraksi vakum adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi tekanan negatif melalui suatu cup pada kepala janin sehingga terbentuk caput buatan. Alat ini dinamakan ekstraktor vakum atau ventouse.  Indikasi dilakukannya ekstraksi vakum ada tiga, yaitu indikasi ibu, indikasi janin dan indikasi waktu.11
            Dalam laporan kasus ini, akan dibahas tentang aspek sosial pada kasus bekas seksio cesarea dengan inpartu kala II lama dilakukan ekstraksi vakum.






















L A P O R A N   K A S U S
IDENTITAS
Nama                     : Ny. JB
Umur                     : 26 tahun
Alamat                  : Kombos Lingkungan I
Tempat Lahir         : Manado
Bangsa                  : Indonesia
Agama                   : Kr. Protestan
Pendidikan            : SMK
Pekerjaan               : Ibu Rumah Tangga
Nama Suami          : Tn. FH
Umur Suami          : 26 tahun
Alamat Suami       : Kombos Lingkungan I
Pendidikan Suami : SMK
Pekerjaan Suami    : Buruh
ANAMESIS UTAMA
Penderita MRS tanggal  2 Februari 2010   0400 Wita.
Keluhan Utama : Dikirim Oleh bidan dengan diagnosa G2P1A0,26 Tahun His kencang, Jam 02.00 Wita mengejan kepala tidak maju-maju, anak pertama seksio cesarean, palpasi 2 jari bawah pusat, kepala punggung kanan, BJA (+), Pelepasan darah (+).
Riwayat penyakit sekarang :
4  Penderita sudah dipimpin mengedan oleh bidan sejak jam 00.00 wita.
4  Nyeri perut bagian bawah dirasakan sejak jam 12.00 wita.
4  Pelepasan lendir campur darah (+)
4  Pelepasan air dari jalan lahir (+) sejak jam 22.00 wita
4  Pergerakan janin masih dirasakan saat MRS.
4  Riwayat penyakit dahulu:
§  Penyakit Jantung
§  Penyakit Hipertensi
§  Penyakit Paru-paru                 disangkal penderita
§  Penyakit Hati                    
§  Penyakit Ginjal
§  Penyakit Kencing Manis
4  BAB dan BAK biasa
ANAMESIS KEBIDANAN
  1. Riwayat kehamilan sekarang:
4  Muntah (-)
4  Bengkak (-)
4  Penglihatan terganggu (-)
4  Sakit Kepala (-)
4  Kencing terlalu sering (-)
4  Defekasi tidak teratur (-)
4  Perdarahan (-)
4  Keluar darah (-)
4  Kejang (-)
4  Waktu hamil tidak merokok dan minum alkohol
  1. Pemeriksaan Ante Natal (PAN):
4  Pemeriksaan Ante Natal dilakukan secara teratur
4  PAN pertama umur kehamilan 10 minggu
4  PAN terakhir tanggal 1 Februari 2010
4  Jumlah PAN selama kehamilan 9 kali Di Puskesmas
4  Haid (menarche) 12 tahun, siklus haid teratur, lamanya haid 6 hari
4  Hari pertama haid terakhir (HPHT) 21 April 2009
4  Taksiran tanggal partus 28 Januari 2010
  1. Riwayat Keluarga:
4  Perkawinan satu kali, dengan suami sekarang 5 tahun, jumlah anak yang diinginkan lagi satu orang, sekarang anak 1 orang.
  1. Keluarga Berencana:
4  Riwayat ikut KB dengan cara menggunakan KB suntik.
  1. Riwayat kehamilan terdahulu:
4  P1 : Tahun 2005, Cukup bulan,  SC a.i. Plasenta previa di RSUP Prof Kandou lahir bayi perempuan BBL 2600gr, hidup.

PEMERIKSAAN KEBIDANAN I
:  Tanggal  02 Februari 2010, jam 0400 Wita.
:  Status Praesens:
4  KU                           : cukup
4  Kesadaran                : CM
4  Tekana darah            : 120/ 70 mmHg
4  Nadi                         : 88 X /  menit
4  Respirasi                   : 24 X /  menit
4  Suhu badan              : 36,80 C
4  BB                            :51 kg
4  TB                            : 146 CM
4  Mata                         : conj. anemis -/ - , sclera ikterik -/ -
4  Jantung                     : SI  - II   normal, bising (-)
4  Paru-paru                  : rh -/ - , wh -/ -
4  Anggota gerak         : edema (-), varices (-) 
:  Pemeriksaan Obstetrik:
4  Pemeriksaan Luar:
§  TFU                 : 30 CM
§  Letak janin      : letak kepala U puka
§  BJA                 : (+), 13 – 12 – 12
§  His                   : 2-3’//45-50’
§  Taksiran berat badan anak (TBBA): 2600 gr
4  Pemeriksaan Dalam:
§  Pembukaan lengkap, ketuban (-) sisa slight meconeum, pp kepala HIII terdapat kaput ukuran 3x4 cm.
4  Pemeriksaan Laboratorium:
§  Darah :
ú HB            : 12,6 gr%
ú Lekosit      : 16.500/ mm3
ú Trombosit  : 282.000/ mm3


PEMERIKSAAN KEBIDANAN II
:  Kesimpulan Sementara:
G2P1A0, 26 tahun, hamil 40-41 minggu Inpartu kala II lama + Bekas SC
Janin intra uterin, tunggal, hidup, letak kepala  U  puka.
:  Sikap:
4  Seksio Cesarea cito
4  Konseling
4  Sedia donor setuju operasi
4  Lapor Konsulen→ Sc cito
Observasi
4  Jam      : 0400 Wita.
Kes      : CM, T 120/ 70 mmHg , N 88X/ menit, R 22 X/ menit.
His       : 2-3’//45-50”
BJA     : (+), 13 – 12 – 13
PD       : Pembukaan lengkap, ketuban (-) sisa slight meconeum, pp kepala HIII,    terdapat kaput ukuran 3x4 cm
Dx       : G2P1A0, 26 tahun, hamil 40-41 minggu Inpartu kala II lama + Bekas SC
              Janin intra uterin, tunggal, hidup, letak kepala HIII
Sikap:
4  Seksio Cesarea cito
4  Konseling
4  Sedia donor setuju operasi
4  Lapor Konsulen→advis Sc cito
:  Jam   : 0400 – 0430 Wita., His: 2-3//45-50, BJA: 12 – 13 – 12
:  Jam   : 0430 – 0500 Wita., His: 2-3//45-50, BJA: 13 – 13 – 12

4  Jam      : 0500 Wita. Ibu ingin mengedan.
His       : 2’-3’   50”-55” ,BJA 13-13-12.
PD          : Pembukaan lengkap, ketuban (-) sisa slight meconeum, pp kepala HIII+,    kaput (+) ukuran 3x4 cm
Dx       : G2P1A0, 26 tahun, hamil 40-41 minggu Inpartu kala II lama + Bekas SC
              Janin intra uterin, tunggal, hidup, letak kepala HIII+
Sx        : Ekstraksi Vakum.
              Informed Consent.
4  Jam 0531 Wita : Ekstraksi vakum dimulai.
4  Jam 0545 Wita : Lahir perempuan, BBL 2600 gr, PB 46 cm, AS 5-7
4  Jam 0550 Wita : Lahir plasenta lengkap dengan selaputnya, BPL 500 gr.



Keadaan ibu 2 jam post partum :
T 120/ 80 mmHg , N 80 X/ menit, R 24 X/ menit.
Perdarahan : - Kala III : 250 cc
                     - Kala IV : 100 cc
                                    Total     : 350 cc

            Penderita ditidurkan dalam posisi litotomi, vulva dan sekitarnya diantisepsis dengan betadin, bokong ibu dialas dengan doek steril. Diambil cup nomor 5.
            Cup dipasang miring kedalam vagina kemudian setelah mengenai kepala bayi, cup dipasang tepat pada UUK. Setelah cup terpasang, tekanan didalam cup diturunkan secara bertahap mulai dari -0,2 mmHg selama 2 menit, 0,4 mmHg selama 2 menit dan 0,6 mmHg selama 5 menit. Sementara itu dilakukan pemeriksaan apakah ada jaringan vagina yang terjepit diantara kepala anak dan cup. Ternyata tidak ada jaringan terjepit. Dilakukan episiotomi mediolateral.
            Dilakukan traksi supaya kepala turun (sampai setinggi HIV). Setelah batas rambut kepala berada dibawah simfisis, arah tarikan ke perut ibu. Sementara itu perineum disokong, sehingga lahirlah berturut-turut dahi, mata, hidung, mulut dan dagu. Setelah kepala bayi lahir, tekanan pada cup dinaikan secara perlahan-lahan sehingga cup terlepas. Dengan tarikan dari kepala, bayi dapat dilahirkan.
            Jam 0545 lahir bayi perempuan dengan ekstraksi vakum BBL 2600 gr, PBL 46 cm, AS 5-7. Sementara jalan napas dibersihkan dengan penghisap lendir, tali pusat dijepit dengan cunam kocher ± 1 cm dari umbilikus, kemudian tali pusat diurut kearah ibu dan dijepit dengan cunam kocher II ± 3 cm dari cunam kocher I, sementara tangan kiri penolong melindungi bayi, tali pusat digunting diantara kedua cunam kocher tersebut. Bayi diserahkan kepada bidan untuk perawatan selanjutnya.
            Dibawah bokong ibu diletakan stickpan, vulva dan sekitarnya diantisepsis dengan kapas Lysol kemudian dilakukan pengosongan kandung kencing dengan kateter kemudian penderita diistirahatkan sementara menunggu lepasnya plasenta.
            Setelah 5 menit, dilakukan peregangan tali pusat terkendali untuk mengetahui apakah plasenta sudah terlepas dari cavum uteri.
            Jam 0550 lahirlah plasenta lengkap dengan selaputnya. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan jalan lahir, tampak luka episiotomi rupture perineum grade II, dilakukan hecting, bagian dalam jelujur, bagian luar simpul IV. Ibu dibersihkan dan diistirahatkan. Dalam 2 jam post partum :
T 120/ 80 mmHg , N 88 X/ menit, R 24 X/ menit. Kontraksi uterus baik.
Perdarahan : - Kala III : 250 cc
                     - Kala IV : 100 cc
                                    Total     : 350 cc


FOLLOW UP PENDERITA
4  Tanggal  : 03 Februari 2010
Keluhan (-), Kesadaran : CM, KU : cukup
         T 110/ 70 mmHg , N 84 X/ menit, R 20 X/ menit.
            Conj. anemis -/ -
         c/ p  dalam batas normal, Laktasi (+).
         TFU 1 jbpst, kontraksi uterus baik.
Dx: P2A0, 26 tahun post EV, hari I, atas indikasi kala II lama + Bekas Seksio Cesarea.
       Lahir bayi perempuan BBL 2600 gr, PBL 46 cm, AS 5-7
Sikap:
4  ASI on demand
4  Konseling KB
4  Cefadroksil3 x 1
4  SF 1x1
4  Tanggal  : 04 Februari 2010
Keluhan (-), Kesadaran : CM, KU : cukup
         T 110/ 70 mmHg , N 84 X/ menit, R 20 X/ menit.
            Conj. anemis -/ -
         c/ p  dalam batas normal, Laktasi (+).
         TFU 2 jbpst, kontraksi uterus baik.
Lochea : rubra
Perineum : hecting baik 
         Diagnosis :  
         P2A0, 26 tahun post EV, hari II, atas indikasi kala II lama + Bekas Seksio Cesarea.
         Lahir bayi perempuan BBL 2600 gr, PBL 46 cm, AS 5-7
         Sikap:
4  ASI on demand
4  Konseling KB→ Rencana KB suntik
4  Cefadroksil3 x 1
4  SF 1x1
4  Rawat perineum
     
4  Tanggal  : 05 Februari 2010
Keluhan (-), Kesadaran : CM, KU : cukup
         T 110/ 70 mmHg , N 84 X/ menit, R 20 X/ menit.
            Conj. anemis -/ -
         c/ p  dalam batas normal, Laktasi (+).
         TFU 2 jbpst, kontraksi uterus baik.
Lochea : rubra
Perineum : hecting baik 
         Diagnosis :  
         P2A0, 26 tahun post EV, hari III, atas indikasi kala II lama + Bekas Seksio Cesarea.
         Lahir bayi perempuan BBL 2600 gr, PBL 46 cm, AS 5-7
         Sikap:
4  ASI on demand
4  Konseling KB→ KB suntik
4  Cefadroksil3 x 1
4  SF 1x1
4  Rawat jalan

KUNJUNGAN RUMAH ( 20 Februari 2010)
                  Penderita bersama suaminya, tinggal dirumah milik orang tuanya. Rumah terletak di kelurahan Kombos lingkungan I, Rumah terletak disebuah lorong sempit, sekitar 300 m dari jalan raya, rumah berukuran ± 8x 8 m dinding beton lantai beton, memiliki 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, dan 1 wc, suami penderita bekerja sebagi buruh bangunan yang penghasilannya tidak tetap. Anak pertama penderita sudah berusia 4 tahun, tapi belum bisa berjalan dan berbicara, menurut dokter anak, anak pertamanya memang mengalami cacat, tapi pasien tidak tau apa penyakit anaknya, saat dioperasi tahun 2005, pasien mengalami pendarahan yang hebat, dan merasa hampir meninggal sehingga penderita trauma untuk dioperasi lagi. Saat persalinan anak pertama penderita sakit sehingga penderita tidak mau melahirkan di RS karena mengingat persalinan di RS harus menginap, sedangkan anak pertama dalam keadaan sakit.
Saat kunjungan, anak ke-2 penderita sehat, belum pernah sakit.
Anamnesis ulang, saat persalinan, penderita mulai merasa sakit perut jam 12 siang, kemudian jam 18.00 segera ke praktek bidan terdekat, tapi bidan menolak menangani penderita, tapi penderita memaksa, karena pasien hanya memiliki uang Rp.500.000. Pukul 22.00 pasien pecah ketuban, dilakukan Pemeriksaan dalam oleh bidan dan dianjurkan jangan mengedan. Saat pukul 00.00 pasien merasa ingin mengejan. Di Periksa dalam oleh bidan, dan di suruh mengedan, tapi bidan tidak memimpin persalinan tersebut hanya membiarkan pebderita, karena menurut penderita, bidan sudah tidak mau menangani, dan mengatakan jangan melahirkan disini, tapi pasien menolak. Pukul 03.00 pasien akhirnya minta kepada keluarganya untuk dirujuk karena bidan tidak mau menyentuhnya ( tidak mau melakukan pemeriksaan dalam ) lagi dan pasien merasa kelelahan, sehingga pasien takut dan minta dirujuk.

KUNJUNGAN RUMAH  BIDAN ( 20 Februari 2010)
               Rumah bidan terletak juga di kelurahan Kombos, ± 350 m dari rumah penderita. Bidan KB sudah pensiun sejak tahun lalu dan sudah membuka klinik bersalin sejak 10 th yang lalu, Bidan KB lulusan Akademi kebidanan DI dan pensiun PNS saat umur 55 tahun. Terakhir tugas di puskesmas Kombos. Bidan KB, mengerti akan kehamilan resiko tinggi pada kehamilan bekas SC dia sudah menolak menangani penderita, tapi, penderita memaksa, bidan KB mengetahui jika persalinan bekas SC karena indikasi tidak tetap ( plasenta previa) bisa lahir pervaginam, tapi bidan KB takut menangani bekas SC jadi, setiap kasus bekas SC dia selalu merujuk. Hanya pasien ini tetap menolak dirujuk. Karena pasien menolak dirujuk, bidan KB menyuruhnya berbaring di bed, dan melarangnya mengedan, saat pukul 00.00 wita bidan KB melakukan pemeriksaan dalam dan merasa pembukaan sudah lengkap, sehingga dia menganjurkan lagi untuk kerumah sakit, tapi pasien menolak, sehingga dia membiarkan pasien mengejan sendiri, dia tidak mau memimpin persalinan tersebut. Saat pukul 03.00 dini hari pasien minta dirujuk.






D I S K U S I

Yang akan dibahas pada kasus ini adalah :
  1. Kesalahan penanganan pada kasus ini
  2. Keadaan sosial ekonomi sebagai penyulit
Kesalahan penanganan pada kasus ini
            Pada kasus ini, ditemukan kesalahan penangan, baik dari segi faktor resiko pada pasien ini, maupun keterlambatan penanganan.
Berdasarkan kepustakaan, keterlambatan dikenal dengan istilah 4 terlambat, yaitu terlambat mengenal secara dini tanda bahaya/ masalah / faktor resiko, Terlambat mengambil keputusan, terlambat dalam transportasi, dan terlambat mendapat pertolongan ditempat rujukan.
  1. Terlambat mengenal secara dini faktor resiko
Penderita melakukan pengawasan antenatal sebanyak 9 kali dipuskesmas. Sebenarnya hal tersebut sudah lebih dari cukup. Namun yang menjadi masalah, yaitu petugas kesehatan tidak memberikan konseling yang baik tentang resiko tinggi pada pasien ini.
Dari segi medis, pasien ini adalah bekas seksio cesarea. Sebaiknya pada pengawasan antenatal sudah dianjurkan PAN di Rumah sakit, untuk persiapan persalinan di rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap. 5,6 Saat pesalinan, pasien ketempat prakek bidan, untuk meminta pertolongan, bidan menganjurkan agar penderita melahirkan di Rumah sakit. Tapi penderita menolak. Pada penderita bekas Seksio konseling harus dilakukan dengan baik, beri pengertian pada pasien bahwa dia tidak bisa melahirkan di tempat tersebut.
  1. Terlambat Mengambil Keputusan
Pada pasien ini terjadi keterlambatan dalam mengambil keputusan. Karena dari data yang diperoleh, kira-kira pukul 18.00, Bidan KB sudah menganjurkan pasien untuk ke Rumah Sakit, tapi penderita menolak. Kemudian pasien di tempatkan di tempat tidur. Pukul 00.00 pasien sudah merasakan his yang kuat, kemudain bidan KB melakukan pemeriksaan dalam dan menganjurka pasien untuk ke RS tapi pasien menolak. Akhirnya pasien disuruh mengejan sendiri oleh bidan KB tanpa dipimpin. Pukul 03.00 bayi belum juga lahir, karena sudah sangat kelelahan, pasien akhirnya meminta dirujuk ke rumah sakit.
Sebenarnya saat pasien datang, bidan KB harus segera menolak secara tegas membantu persalinan pasien ini, agar tidak terjadi keterlambatan penanganan pada kasus ini. Karena pada persalinan bekas Seksio, ibu hanya diberi kesempatan mengedan selama 2x 15’ agar tidak terjadi ruptura uteri. 5,6 Pada saat tiba di RS Prof. Kandou, persalinan ini segera di sikapi dengan seksio cesarea karena letak kepala masih di hodge III, tapi dalam persiapan operasi kepala maju ke Hodge III+ sehingga diputuskan untuk mempercepat kala II dengan ekstraksi vacum.
Menurut bidan KB, dia mengetahui bahaya-bahaya persalinan bekas SC, dia juga sudah mencoba menyarankan penderita agar segera kerumah sakit tapi pasien menolak karena uang ditangan hanya Rp. 500.000, pasien mengeluh tidak sanggup jika  biaya operasi seandainya di operasi.
Berdasarkan Kepustakaan, pada kasus-kasus rujukan telambat, terjadi kesulitan lain, seperti : 1
*      Dirumah
Kesulitan untuk mengambil keputusan karena kejadian mendadak serta faktor sosioekonomibudaya yang tidak mendukung.
*      Di perjalanan
Agar semua lancar, dibutuhkan beberapa hal yang disingkat dengan BAKSOKU, yaitu :
v  B idan, sebagai pengantar
Pada kasus ini, saat penderita dirujuk dari bidan, tidak disertai dengan bidan tersebut. Hanya dengan surat pengantar.
v  A lat transportasi
Dalam hal ini karena kelurahan kombos berada ditengah kota Manado, sehingga tidak ada halangan dalam hal transportasi.
v  K eluarga
Pada kasus ini pasien diantar oleh ibu, bapak, suami dan saudara-saudaranya.
v  S urat rujukan Gakin
Pasien adalah pasien yang tergolong tidak mampu, ini saat masuk hanya membawa surat gakin lama yang  sudah tidak berlaku, hal ini juga merupakan salah satu yang menyebabkan pasien menolak ke rumah sakit, karena tidak ada kartu Jamkesmas, hanya surat GAKIN lama yang masih berlaku saat Seksio sesarea anak pertama.

v  Obat
Pada saat dirujuk dari bidan KB, pasien belum terpasang infus.
v  K endaraan khusus.
v  U ang
Pada kasus ini, penderita hanya mempunyai uang Rp.500.000 sehingga pasien tidak mau melahirkan di rumah sakit.
*      Di Rumah Sakit
Perlu tindakan stabilisasi untuk memperbaiki keadaan umum, pada saat sampai di RS Prof. RD Kandou, pasien mengalami rasa takut, dan dengan adanya his yang adekuat, sehingga dilakukan pemasangan Infus dan pemberian O2 untuk mencegah gawat janin, dan segera dilakukan persiapan Seksio cesarea cito. Saat persiapan Seksio,  ibu ingin mengedan dan saat pemeriksaan dalam, syarat ekstraksi vakum terpenuhi sehingga dilakukan ekstraksi vakum.
*      Pasca Tindakan
Ibu memerlukan rawat inap dirumah sakit, dan hari II post partum, berusah mengurus pengalihan surat GAKIN ke Jamkesmas, sehingga saat pulang ibu tidak terlalu memerlukan biaya yang banyak.

Keadaan Sosioekonomi sebagai Penyulit
Karena latar belakang pendidikan yang rendah, penderita kurang menyadari bahwa kehamilannya saat ini merupakan kehamilan resiko tinggi. Padahal pasien menjalani Pemeriksaan antenatal di pusat kesehatan masyarakat, kurangnya konseling pada pasien ini juga mempengaruhi, yaitu konseling saat penderita selesai peralinan pertama, kehamilan ini dan saat pnghadapi persalinan ini.
Masalah yang juga dihadapi pasien ini adalah sosial ekonomi yang sulit sehingga pasien menolak persalinan dirumah sakit. Pasien tidak memiliki simpanan uang yang cukup untuk persalinan dirumah sakit, pasien sudah diinformasikan oleh petugas puskesmas bahwa kartu GAKINnya sudah tidak bisa digunakan untuk persalinan ini, sehingga pasien berpikir tidak mau melakukan persalinan di rumah sakit, padahal saat dirawat di ruang nifas, pasien disarankan oleh perawat agar memperbaharui kartu gakinnya menjadi jamkesmas. Agar supaya pasien tidak membayar  terlalu banyak. Kesalahan informasi dari perawat di Puskesmas, juga menjadi faktor masyarakat miskin dalam menyikapi kehamilan mereka. Pasien pulang setelah mengurus surat jamkesmas dan tidak memerlukan biaya yang besar.
K E S I M P U L A N

4  Pada kasus ini terjadi kesalahan penanganan pada saat persalinan, karena pembukaan lengkap pasien tidak mau dirujuk kerumah sakit.
4  Ketelambatan merujuk pasien ini dipengaruhi oleh faktor sosioekonomi.
4  Penanganan pada pasien ini sudah tepat dimana setelah dilakukan pencegahan terjadinya gawat janin, disikapi dengan seksio sesarea, dan saat kepala sudah di hodge III+ dilakukan ekstraksi vakum.

S A R A N

4  Perlu penyuluhan dan refreshing bagi tenaga kesehatan dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan memberikan informasi kepada tenaga kesehatan agar dapat mewaspadai kehamilan resiko tinggi sehingga dapat melakukan penaganan yang tepat sejak pemeriksaan antenatal sampai pada persalinan.
4  Perlu dilakukan konfirmasi yang baik antara pasien, keluarga dan petugas kesehatan agar tidak terjadi keterlambatan dan penanganan.














D A F T A R    P U S T A K A

1.      Rochjati P. Sistem rujukan dalam Pelayanan Kesehatan Reproduksi, dalam : Bunga Rampai Obstetri dan Ginekologi Sosial. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. JAKARTA, Hal : 259-75
2.      Hasdiana Hasan, Partus lama dan terlantar dalam Ilmu Kedokteran Fetomaternal edisi perdana, Himpunan kedokteran fetomaternal, POGI Surabaya, 2004, 905-8
3.      Mukherji Joydev, Prolonged labor and Obstructed labor in Essential of Obstetrics editors Sabratman Arullkumaran et all, first edition : Jaypee Brothers Medical Publisher, New Delhi 2004, 345-50
4.      Dudley J Donald, Prolonged Latent Phase and Prolonged second stage in Complication of Labor. Danfoth’s Obstetrics and Gynecology 8th edition. Lippincott Williams and Wilkins, 1999, 428-30
5.      Wikipedia the free encyclopedia. Vaginal birth after caesarean  in Wikimedia. Available on http://en.wikipedia.org.wiki/
6.      Handaya, Partus pervaginam setelah seksio sesare dalam Ilmu Kedokteran Fetomaternal edisi perdana, Himpunan kedokteran fetomaternal, POGI Surabaya, 2004, 909-10
7.      Health & Pregnancy. What is the vaginal birth after caesarean (VBAC)? Available on http://www.webmd.com/baby/guide/vaginal-birth-after-cesarean-vbac-overview
8.      Nicette Jukelevics, VBAC. Available on http://www.vbac.com/
9.      Nyol-Grey, Persalinana Pervaginam pada Riwayat Operasi Cesar. Available on http://dr.Nyol.info.com//
10.  Cunningham FG, Leveno KJ etc, Prior Cesarean Delivery: Introduction in William Obstetrics. Copyright ©2007 The McGraw-Hill Companies.  All rights reserved.
11.  Sutoto dan Herman K. Ekstraksi Vakum. Dalam: Ilmu Fantom Bedah Obstetri edisi 1999, Semarang, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 1999: 41-45.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar